Dokumen Rahasia Bocor, Dampak Perang Iran Ternyata Lebih Parah dari Klaim Israel-AS

Ilustrasi dokumen dampak perang Iran terhadap Amerika dan Israel
Sumber :
  • Istimewa

Proses pemulihan kompleks basan diperkirakan baru akan selesai pada tahun 2028.

img_title Trump Berkali-kali Ancam Iran, Tapi Malah Mundur Saat Perang Makin Panas

Padahal kabinet Israel sendiri memiliki rencana untuk mengevakuasi industri petrokimia dari Teluk Haifa dengan kerugian awal yang diperkirakan mencapai 150 hingga 200 juta dolar.

Israel-AS Tekor Parah

img_title Iran Lipatgandakan Produksi Rudal saat AS Melempem

Tel Aviv benar-benar mengalami situasi rugi bandar. Kerugian ini nyatanya tidak hanya ditanggung oleh Israel. 

Sekutu utama mereka, yakni Amerika Serikat juga tengah menghadapi krisis yang disebut oleh para analis Barat sebagai kebutaan strategis. 

img_title Trump Perketat Tekanan ke Iran, Benarkah Semua Negara Bisa Dipaksa Berhenti Berdagang?

Melansir analisis dari media militer Defense One yang dikutip oleh Mehr News, perang 40 hari melawan Iran telah menyingkap kesenjangan yang sangat dalam. 

Yakni, antara kemampuan taktis militer Amerika dan kekuatannya untuk mencapai tujuan politik.

Washington dinilai menganggap kemenangan operasional jangka pendek seperti jumlah bom yang dijatuhkan, atau eliminasi komandan musuh sebagai kemenangan akhir perang. 

Namun nyatanya, sejarah kelam di Afghanistan, Irak, dan Libya kini terulang kembali. 

Di mana AS dan Israel berupaya mengubah peta kekuatan regional dan menghancurkan Iran. 

Tapi fakta menunjukkan hasil di lapangan justru sebaliknya. Poros perlawanan tetap utuh dan tidak tereliminasi dari persamaan regional. 

Sementara beban anggaran pertahanan AS membengkak karena terpaksa mempertahankan kapasitas logistik, sistem pertahanan, dan kapal perang di Asia Barat. 

Serta yang terakhir, biaya ekonomi melonjak akibat asuransi transportasi maritim dan gangguan rantai pasok energi global.

Trump dan Netanyahu Pecah Kongsi

Devens One juga menyoroti terjadinya krisis pencegahan di mana pencegahan militer dianggap berhasil jika bisa mengubah perilaku lawan. 

Namun setelah gempuran hebat, kemauan Iran dan sekutunya untuk melawan justru semakin menguat.

Kondisi itu menyebabkan aliansi Barat mulai retak karena negara-negara Eropa merasa rentan terhadap konsekuensi ekonomi dan keamanan dari perang yang justru dipicu oleh kebijakan sepihak Washington.

Krisis strategis ini akhirnya memicu perpecahan arah kebijakan di tingkat tertinggi.

Berdasarkan laporan dari Times of Israel, Presiden Donald Trump sempat mempertimbangkan opsi untuk kembali ke perang skala penuh melawan Iran. 

Namun ia akhirnya memilih mundur dan memprioritaskan upaya diplomatik melalui kesepakatan sementara 17 Juni.

Halaman Selanjutnya
img_title