Sesumbar Soal Operasi Biru Putih Targetkan Mojtaba Khamenei, Trump Sebut  Pemimpin Israel "Gila" ?

Potret ilustrasi Donald Trump dan Netanyahu
Sumber :
  • Istimewa

Siap –Hubungan Amerika Serikat (AS) dan Israel dilaporkan memasuki babak baru.

img_title Trump Tantang Iran soal Selat Hormuz, Balasan Teheran Bikin Geger

Pemerintahan Presiden Donald Trump disebut mulai meninggalkan kebiasaan memberikan perlakuan istimewa kepada Israel dan menerapkan doktrin "America First" secara lebih konsisten terhadap sekutu dekatnya itu.

Langkah ini menandai pergeseran geopolitik yang signifikan di kawasan Timur Tengah.

img_title Amerika Jadi Target, Iran Siapkan Hadiah Ratusan Juta dan Bonus Khusus

Dilansir dari laporan Politico menyebut pemerintahan Trump kini tidak lagi memandang Israel sebagai sekutu yang dikecualikan dari pendekatan kebijakan luar negeri tersebut.

Kebijakan pragmatis Washington ini mulai memicu kekhawatiran mendalam di internal pemerintahan Israel yang terbiasa mendapat lampu hijau dalam berbagai keputusan politik regional.

img_title 6 Syarat Keras Iran Bikin AS Bimbang, Salah Jawab Auto Perang Panjang

Seorang penasihat politik Israel yang identitasnya dirahasiakan mengakui Tel Aviv selama ini keliru menganggap posisinya akan selalu berbeda dari sekutu AS lainnya.

Rasa percaya diri yang berlebihan tersebut kini justru berbalik menjadi bumerang bagi diplomasi Israel.

"Kami secara naif bertaruh untuk dikecualikan dari prinsip 'America First'. Tetapi ini tidak bisa bertahan lama. Kami tidak bisa tetap menjadi pengecualian untuk semua keputusan kebijakan luar negeri AS selama empat tahun," ujarnya, dikutip Rabu 1 Juli 2026.

Perubahan pendekatan Washington disebut semakin terlihat dengan munculnya Wakil Presiden AS J.D. Vance sebagai salah satu pendukung utama kebijakan tersebut.

Menurut Politico, Vance bahkan mengingatkan para pejabat Israel agar tidak menganggap dukungan Washington sebagai sesuatu yang pasti. Ia menegaskan AS tetap menjadi "satu-satunya sekutu kuat" Israel.

Tetapi hubungan kedua negara "tidak boleh dipandang sebagai jaminan tanpa syarat".

Sinyal renggangnya hubungan kedua negara juga tercermin dari semakin minimnya komunikasi tingkat tinggi.

Politico mencatat Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu lima kali berkunjung ke Washington sepanjang 2025, namun pada 2026, ia baru sekali mengunjungi Gedung Putih, yakni pada Februari.

Mengutip sumber yang mengetahui pembahasan tersebut, Politico melaporkan belum ada rencana untuk kembali mengundang Netanyahu ke Gedung Putih.

Bahkan, komunikasi langsung antara pejabat senior kedua negara disebut semakin jarang dilakukan.

"Yang terburuk belum datang," kata sumber tersebut.

Laporan ini memperkuat indikasi bahwa hubungan pribadi Trump dan Netanyahu juga sedang memanas.

Halaman Selanjutnya
img_title