Petaka Dibalik Sesumbar Trump di Perang Iran, Awak Kapal Induk Dihantam Badai Depresi, Tentara Nekat Lompat ke Laut?

Potret ilustrasi Donald Trump
Sumber :
  • Istimewa

Siap –Dibalik konflik antara Amerika Serikat (AS)-Iran yang berkepanjangan ternyata menyimpan misteri yang membuat dunia terperangah.

img_title Siap Perang Besar? Iran Siapkan Rudal Generasi Baru dengan Daya Hancur Paling Mengerikan!

Di satu sisi, Presiden AS Donald Trump kerap mengeluarkan pernyataan pernyataan yang sesumbar atas perang dengan Iran namun tak sesuai dengan kenyataan.

Pasalnya, baru baru ini dikabarkan bahwa kondisi memprihatinkan tengah melanda kapal induk Amerika Serikat, USS Abraham Lincoln, yang saat ini bertugas di kawasan konflik Timur Tengah.

img_title Gawat, Perang Saraf AS-Iran Memanas: California Disebut Jadi "Wilayah Baru" Teheran?

Di balik misi operasionalnya menghadapi tekanan militer Iran, armada tempur raksasa ini justru menyimpan krisis internal yang sangat mengkhawatirkan.

Selain ketegangan fisik dan gesekan antar-personel, setidaknya enam pelaut AS dilaporkan sempat nekat mencoba melompat ke laut.

img_title NATO Siaga Satu! Iran Ancam Hantam Pangkalan Militer AS di Eropa, Siap Perang Besar?

Tindakan nekat tersebut diduga kuat dipicu oleh tekanan psikologis dan beban mental yang berat akibat masa penugasan tanpa kepastian jadwal kepulangan.

Perjalanan operasional USS Abraham Lincoln dimulai saat berlayar meninggalkan Pangkalan San Diego pada akhir November 2025.

Memasuki Januari 2026, kapal induk ini bersama grup tempurnya tiba di perairan Timur Tengah tepat saat eskalasi hubungan dengan Iran berada di titik kritis.

Ketika bentrokan militer terbuka antara Amerika Serikat dan Iran pecah pada 28 Februari, armada ini langsung dikerahkan dalam serangkaian serangan udara dan penugasan tempur berisiko tinggi.

Namun, masa tugas yang terus diperpanjang selama berbulan-bulan mulai menggerogoti ketahanan fisik dan mental para prajurit.

Mengutip laporan majalah The Cradle, beberapa insiden pelaut yang mencoba terjun dari kapal telah tercatat, dengan kasus paling baru dilaporkan terjadi pada Senin (3/8).

Fenomena ini erat kaitannya dengan situasi ekstrem yang dialami awak kapal setelah mengapung di laut lepas selama ratusan hari tanpa bersandar di pelabuhan untuk memberi waktu rehat.

Kondisi memprihatinkan ini turut diamini oleh pihak keluarga awak kapal.

Mereka mengeluhkan minimnya pemenuhan kebutuhan dasar, mulai dari menipisnya stok bahan makanan hingga kelangkaan barang harian seperti sabun mandi, pasta gigi, dan deodoran.

Tak berhenti di situ, fasilitas vital kapal pun dikabarkan mengalami banyak kendala teknis.

Banyak toilet yang rusak, area kamar mandi berjamur dan tanpa ketersediaan air panas, hingga layanan pencucian pakaian (laundry) yang tidak berfungsi optimal.

Halaman Selanjutnya
img_title