Frustasi! AS "Merengek" Minta Dunia Turun Tangan Bongkar Selat Hormuz dari 'Cengkeraman' Iran, Sinyal Trump Nyerah?
- Istimewa
Bagi AS, menjaga kebebasan navigasi (freedom of navigation) di jalur internasional kini telah menjadi isu keamanan global.
Melalui seruan ini, Washington memberikan sinyal tegas bahwa mereka menginginkan pembagian tanggung jawab (burden-sharing) yang nyata.
Dukungan yang diharapkan dari negara-negara mitra mencakup berbagai aspek teknis dan operasional, mulai dari bantuan logistik, pengerahan peralatan militer, hingga komitmen pendanaan bersama guna memastikan kelancaran arus perdagangan energi dunia tetap terjaga.
Misteri Mengerikan Selat Hormuz Bikin AS Frustasi
Pasca kembali memanasnya konflik bersenjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, Selat Hormuz yang merupakan urat nadi pasokan energi dunia kini sangat mencekam.
Tak hanya itu, lalu lintas kapal komersial di Selat Hormuz mendadak anjlok drastis pasca ketegangan militer membara sejak 28 Februari 2026.
Jalur navigasi yang biasanya dilewati sekitar 140 kapal per hari, kini merosot tajam hingga tersisa sekitar 14 kapal saja per hari.
Penyebab utamanya adalah rumor mengerikan: Iran disebut-sebut telah menanam ranjau laut mematikan di sepanjang selat strategis tersebut.
Jalur laut ini sangat vital bagi stabilitas global karena menjadi perlintasan bagi lebih dari 20 persen pasokan minyak mentah dunia.
Pada titik tersempitnya, perairan antara Iran dan Oman ini bahkan hanya memiliki lebar sekitar 33 kilometer.
Namun, di balik kepanikan industri pelayaran global, muncul teka-teki besar yang membingungkan militer dunia.
Hingga saat ini, belum ada satu pun kapal yang dilaporkan menabrak ranjau.
Apakah ranjau-ranjau tersebut benar-benar nyata, atau sekadar strategi gertakan?
Senjata Murah dengan Efek Mematikan
Pejabat tinggi Amerika Serikat meyakini bahwa Iran telah menyebar ranjau laut untuk memblokade jalur internasional tersebut.
Secara teoritis, ranjau laut memang menjadi salah satu senjata paling efektif dan terjangkau dalam perang asimetris di laut.
Wadah logam berisi bahan peledak ini dapat ditempatkan di dasar laut atau ditambatkan di bawah permukaan air.
Senjata ini bekerja otomatis merusak atau menghancurkan kapal perang maupun kapal komersial saat mendeteksi perubahan magnetik, akustik, hingga tekanan air. Intelijen memprediksi Iran memiliki persediaan 2.000 hingga 6.000 ranjau laut, termasuk jenis ranjau roket canggih.