Tunggu 3 Hari Lagi, Iran Bakal Gunakan Taktik Ofensif Habisi AS, Apa Itu?
- Istimewa
Siap – Konflik antara Amerika Serikat dengan Republik Islam Iran kian memanas. Kedua negara tersebut terlibat aksi saling balas melalui serangan udara di kawasan Timur Tengah.
Dikutip dari kanal YouTube Kompas, Iran telah melancarkan serangan terbaru sebagai respon atas apa yang disebut sebagai pelanggaran udara oleh Amerika Serikat ke wilayahnya.
Pada Sabtu, 18 Juli 2026, militer Republik Islam juga merilis rekaman yang diklaim menampilkan peluncuran rudal ke arah target musuh.
Konflik antara Teheran dan Washington terus memanas, seiring kedua negara saling melancarkan serangan ke infrastruktur dan target militer.
Selama beberapa hari terakhir, aksi saling balas-membalas terus berlangsung di kedua wilayah tersebut.
Bersiap dengan Serangan Skala Penuh
Sementara itu, Penasihat Senior Pemimpin Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei menyatakan Teheran akan memasuki fase serangan skala penuh apabila serangan AS berlanjut selama 2 hingga 3 hari lagi.
Rezeai juga menegaskan, dalam skenario tersebut negaranya tidak akan lagi membatasi aksi hanya pada serangan balasan.
Ia juga menyatakan, tidak ada lagi batasan politik yang dapat menjadi perlindungan dari kekuatan ofensif Republik Islam.
"Jika serangan AS berlanjut selama dua atau tiga hari lagi, kita akan memasuki fase serangan ofensif dan destruktif skala penuh. Apa artinya itu? Dan tidak akan lagi membatasi diri hanya pada pembalasan dan tidak ada perbatasan politik," janjinya.
Kombinasi rudal balistik Iran siaga hadapi AS
- Istimewa
Di tengah memanasnya konflik, Washington dan Teheran terus saling melancarkan serangan ke berbagai target infrastruktur dan sasaran militer di Timur Tengah.
Pertempuran keduanya semakin terfokus pada perebutan kendali di kawasan Selat Hormuz.
Menurut laporan, Amerika Serikat memperluas operasi militernya dengan menargetkan lebih banyak jembatan, fasilitas energi, serta meruntuhkan sebuah menara di pelabuhan utama Iran.
Langkah itu disebut menjadi kelanjutan dari tekanan Presiden AS Donald Trump agar Teheran melepaskan kendalinya atas jalur pelayaran strategis tersebut.
Sebagai respon, Teheran meluncurkan rudal ke sejumlah negara sekutu AS di Timur Tengah termasuk Qatar dan Kuwait.
Dalam serangannya di Kuwait, salah satu pabrik desalinasi air dilaporkan mengalami kerusakan akibat serangan itu.