Disebut Telah Tewas, Mojtaba Khamenei: Tanda Tangan Donald Trump Sama Sekali Tak Berharga!

Potret ilustrasi Mojtaba Khamenei Pemimpin Tertinggi Iran
Sumber :
  • Istimewa

Siap –Hubungan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) berada di titik nadir yang sangat krusial.

img_title Iran Tak Gentar Perang Berkepanjangan, AS Mulai Hitung Persediaan Senjata

Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, secara terbuka memperingatkan Washington bahwa mereka akan menghadapi "pelajaran yang tak terlupakan" di tangan Teheran dan sekutu regionalnya.

Pernyataan keras ini dipicu oleh tuduhan Teheran bahwa AS telah berulang kali melanggar nota kesepahaman (MoU) yang disepakati oleh kedua belah pihak.

img_title Iran Bertekad untuk Terus Melawan hingga AS-Israel Kalah Total

Dilansir dari Al-Jazeera, pernyataan tertulis yang dikaitkan dengan Mojtaba Khamenei tersebut dibacakan langsung melalui televisi pemerintah Iran.

Pemimpin tertinggi Iran menegaskan bahwa pelanggaran sepihak oleh Washington membuktikan bahwa komitmen dari Presiden Donald Trump sudah tidak bisa lagi dipercaya.

img_title Di Tengah Perang Iran-AS, Kanada Dapat Sindiran Tak Terduga dari Teheran

Langkah ini dinilai kian memperkeruh stabilitas di kawasan Timur Tengah yang saat ini sudah sangat rapuh.

"Pelanggaran berulang terhadap perjanjian oleh Setan Besar sehubungan dengan kesepakatan tersebut sekali lagi membuktikan kepada semua orang bahwa tanda tangan Presiden Amerika sekarang sama sekali tidak berharga dan tidak sah, dan bahwa intimidasi, hegemoni, dan kebiadaban adalah komponen yang tak terpisahkan dari keyakinan dan doktrin Amerika," bunyi pernyataan resmi tersebut.

Situasi di lapangan pun kian memanas dalam sepekan terakhir.

AS dilaporkan meningkatkan intensitas serangannya ke wilayah Iran dengan menyasar sejumlah infrastruktur sipil yang vital.

Fasilitas publik seperti jembatan strategis, jaringan jalur kereta api, hingga pabrik desalinasi air bersih menjadi target operasi militer Washington.

Iran tidak tinggal diam menghadapi gempuran tersebut. Sebagai bentuk balasan langsung, militer Teheran meluncurkan serangan balasan ke infrastruktur sipil di Kuwait.

Kuwait sendiri merupakan negara tetangga yang selama ini menjadi pangkalan penampung bagi pasukan militer AS di kawasan Teluk.

Dampak dari eskalasi ini mulai dirasakan oleh masyarakat lokal.

Pemerintah Kuwait bahkan langsung mengeluarkan imbauan darurat yang mendesak warga dan seluruh sektor untuk melakukan penghematan listrik secara ketat guna mengantisipasi kelangkaan energi.

Khamenei menegaskan bahwa kubu pertahanan Iran sudah sangat siap menghadapi segala risiko terburuk, termasuk potensi pecahnya perang terbuka.

"Sekarang musuh Amerika berusaha untuk memicu perang dan menderita biaya yang lebih berat dan penghinaan lebih lanjut, mereka harus tahu bahwa bangsa Iran yang terkasih dan Front Perlawanan memiliki pelajaran yang tak terlupakan bagi mereka," tambahnya.

Halaman Selanjutnya
img_title