Setelah 7 Hari Digempur, Respons Iran Justru Bikin Amerika Wajib Waspada
- Moslem Daneshzadeh on Unsplash
Siap – Konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Republik Islam Iran kembali memasuki babak baru.
Setelah melancarkan serangan udara intensif selama sepekan terhadap berbagai sasaran strategis di Iran, militer Amerika mengumumkan berakhirnya rangkaian operasi tersebut.
Namun, di sisi lain, Teheran memastikan serangan balasan justru akan terus berlanjut.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan penghentian operasi udara pada Jumat malam, 17 Juli 2026, sekitar pukul 21.30 waktu setempat.
Operasi militer yang dijalankan atas perintah Presiden Donald Trump itu dimulai sejak 8 Juli 2026 sebagai respons atas tindakan Iran terhadap kapal-kapal komersial yang melintas di Selat Hormuz.
Selama operasi berlangsung, militer Amerika menggempur berbagai fasilitas strategis milik Iran.
Target serangan meliputi pusat pengawasan radar, fasilitas logistik militer, gudang penyimpanan senjata bawah tanah, hingga infrastruktur yang mendukung kemampuan maritim Iran.
Operasi udara tersebut melibatkan jet tempur, pesawat tanpa awak, kapal perang, serta pengerahan armada tambahan, termasuk dua kapal induk yang ditempatkan di kawasan Laut Arab.
Berdasarkan berbagai laporan, rentetan serangan tersebut memicu ledakan besar di sejumlah wilayah Iran, baik di kawasan pesisir maupun pedalaman.
Beberapa daerah yang dilaporkan terdampak antara lain Bandar Abbas, Bushehr, Konarak, Pulau Qeshm, Bandar e Khamir, dan Iranshahr.
Otoritas setempat menyebut serangan itu mengakibatkan korban jiwa, termasuk tujuh prajurit Brigade Iranshahr ke-388 serta puluhan warga sipil.
Sebagai respons atas apa yang disebut sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata, Iran meluncurkan rudal balistik dan drone kamikaze ke sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk, termasuk yang berada di Kuwait dan Bahrain.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) kemudian menegaskan bahwa operasi militernya terhadap Amerika Serikat belum akan dihentikan.
Pernyataan tersebut disampaikan Komandan Angkatan Udara IRGC, Brigadir Jenderal Majid Mousavi.
Ia menegaskan serangan presisi Iran akan terus dilakukan hingga keamanan di wilayah pesisir selatan negara itu dan Selat Hormuz kembali pulih.
“Dalam perhitungan strategis kami, daratan adalah daratan, dari Teheran hingga selatan, seluruh Iran adalah satu kesatuan yang terintegrasi,” katanya dikutip dari TasnimNews pada Sabtu, 18 Juli 2026.