Peringatan Keras Ketua Parlemen Iran: Perang akan Datang!
- Siap.viva/Iran Observer
Washington tetap menuntut pembatasan program nuklir Iran serta perubahan kebijakan regional Teheran.
Sebaliknya, Republik Islam meminta pencabutan sanksi ekonomi dan jaminan bahwa tidak akan ada serangan militer baru terhadap wilayahnya.
Perbedaan posisi tersebut membuat negosiasi berjalan lambat.
Di saat yang sama, retorika politik dari kedua pihak justru semakin keras.
Presiden Donald Trump dalam beberapa kesempatan menyatakan bahwa Amerika Serikat siap mengambil tindakan lebih lanjut jika diplomasi gagal menghasilkan kesepakatan.
Pernyataan itu memicu kekhawatiran bahwa konflik yang sempat mereda dapat kembali meletus sewaktu-waktu.
Menteri Luar Negeri, Abbas Araghchi juga telah memperingatkan bahwa kembalinya perang akan membawa konsekuensi yang lebih luas dibandingkan sebelumnya.
Dalam unggahan di media sosial X yang dikutip berbagai media internasional, Araghchi mengatakan bahwa "kembalinya perang akan menghadirkan lebih banyak kejutan".
Sementara itu, IRGC menegaskan bahwa Republik Islam belum mengerahkan seluruh kemampuan militernya selama konflik sebelumnya.
Menurut pernyataan yang dipublikasikan media resmi Sepah News, jika agresi terhadap Republik Islam kembali terjadi maka respons yang diberikan akan jauh lebih besar.
Pernyataan-pernyataan tersebut menunjukkan bahwa meskipun pertempuran terbuka telah berhenti, kondisi keamanan kawasan masih sangat rapuh.
Timur Tengah Tetap Menjadi Titik Panas Dunia
Serangan Iran ubah konflik Timur Tengah
- Siap.viva/Reuters
Kekhawatiran mengenai kemungkinan perang baru tidak hanya dirasakan oleh Iran dan Amerika Serikat.
Negara-negara di kawasan Timur Tengah juga terus memantau perkembangan situasi dengan sangat hati-hati.
Beberapa negara Teluk diketahui meningkatkan kesiagaan keamanan di sekitar infrastruktur energi dan fasilitas strategis mereka.
Menurut laporan Reuters, sejumlah pemerintah kawasan khawatir konflik baru dapat mengganggu stabilitas ekonomi regional.
Perhatian khusus tertuju pada Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur pelayaran energi paling penting di dunia.
Data Administrasi Informasi Energi Amerika Serikat (EIA) menunjukkan bahwa sekitar 20 persen perdagangan minyak global melewati jalur tersebut setiap hari.
Gangguan terhadap keamanan Selat Hormuz berpotensi memicu lonjakan harga minyak dunia dalam waktu singkat.
Karena itu, komunitas internasional terus mendorong semua pihak untuk menahan diri.