IRGC Ancam Serang Target Tak Terduga Jika Perang Berlanjut, Konflik Iran-AS Bisa Meluas
- Siap.viva/Iran Observer/AI
Siap – Ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel kembali meningkat setelah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengeluarkan peringatan keras mengenai kemungkinan meluasnya perang ke luar kawasan Timur Tengah.
Dalam pernyataan terbaru yang dipublikasikan media resmi Sepah News dan dikutip sejumlah media internasional, IRGC menegaskan bahwa setiap agresi baru terhadap Republik Islam akan memicu respons yang jauh lebih besar dibandingkan fase konflik sebelumnya.
Pernyataan tersebut muncul ketika proses negosiasi pascagencatan senjata masih berjalan lambat dan diwarnai saling ancam antara Washington dan Teheran.
Menurut IRGC, perang berikutnya tidak akan terbatas pada medan konflik yang selama ini terjadi di Timur Tengah.
"Jika perang melawan Iran dilanjutkan, Perang Regional yang diprediksi kali ini akan melampaui Timur Tengah."
"Kami akan memberikan pukulan dahsyat di tempat-tempat yang tak terbayangkan AS."
Pernyataan itu menjadi salah satu sinyal paling tegas dari militer Republik Islam sejak gencatan senjata diberlakukan beberapa pekan lalu.
Sejumlah analis menilai pernyataan tersebut ditujukan untuk meningkatkan efek pencegahan terhadap kemungkinan operasi militer baru oleh AS maupun Israel.
Dalam beberapa bulan terakhir, kedua negara memang terus menekan Republik Islam melalui kombinasi operasi militer, sanksi ekonomi, dan tekanan diplomatik terkait program nuklir Teheran.
Ancaman Baru Muncul Saat Diplomasi Masih Buntu
Seperti dilaporkan AFP dan Al Jazeera dalam perkembangan terbaru konflik Iran-AS, hubungan kedua negara masih berada dalam fase yang sangat rapuh meskipun pertempuran besar telah mereda.
Presiden AS, Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa Washington masih mempertimbangkan opsi militer apabila tidak tercapai kesepakatan damai dalam waktu dekat.
Trump bahkan mengungkapkan bahwa dirinya sempat mempertimbangkan serangan lanjutan sebelum akhirnya memberikan ruang tambahan bagi jalur diplomasi.
Pernyataan tersebut memicu respons keras dari berbagai pejabat Republik Islam.
Menteri Luar Negeri, Abbas Araghchi sebelumnya menulis di platform X bahwa kembalinya perang akan menghadirkan "lebih banyak kejutan".
Komentar Araghchi dianggap sebagai sinyal bahwa Iran telah menyiapkan berbagai opsi militer baru apabila konflik kembali pecah.