Bukan Pakistan, Guru Besar UGM Sebut Negara Ini Bisa Akhiri Perang Iran vs AS tapi...

Ilustrasi konflik Amerika Serikat dan Iran
Sumber :
  • Istimewa

Siap – Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump menyatakan bahwa pihaknya dapat kembali menyerang Iran dalam beberapa hari ke depan jika negosiasi damai gagal mencapai kesepakatan. 

img_title Sangar, Dalam Semalam Iran Hancurkan 9 Pesawat Tempur AS, Washington Makin Tekor

Sementara itu, Iran juga mengancam bakal kembali menyerang dan memberikan balasan yang jauh lebih mengerikan jika AS melakukan agresi militernya kembali.

Bahkan, Republik Islam itu memperingatkan bakal memberi balasan serangan yang lebih masif secara luas ke luar kawasan.

img_title Iran Dapat 'Pelajaran Mahal' dari AS dan Israel, Hasilnya Wajib Diwaspadai Lawan

Lantas mengapa kedua pihak sangat sulit menemukan titik kesepakatan untuk berdamai? 

Apakah hal tersebut juga dipengaruhi oleh peran Pakistan sebagai negara yang dipercaya untuk mendamaikan antara Washington dan Teheran?

img_title AS Kehilangan Aset Canggih di Hormuz, Iran Ungkap Klaim Mengejutkan

Menanggapi hal itu, Guru Besar Geopolitik Timur Tengah dari Universitas Gadjah Mada, Siti Mutiah Setiawati menilai, bahwa banyak faktor yang membuat perang ini semakin alot.

Salah satunya adalah kurang kredibelnya negara ketiga yakni Pakistan sebagai juru damai untuk menengahi masalah ini.

Potret Ilustrasi

Photo :
  • Istimewa/ tangkapan layar YouTube

Di satu sisi, Pakistan cukup memenuhi syarat sebagai negara netral dalam perundingan Washington dan Teheran. Namun itu saja tidaklah cukup. 

Menurut Siti Mutiah, syarat menjadi mediator itu adalah mempunyai kekuatan penekanan pada pihak-pihak yang konflik. 

"Nah Pakistan itu kurang mempunyai leverage atau kelebihan yang bisa menekan kedua belah pihak. Di sini Pakistan banyak sekali kelemahannya," ucap Siti dikutip dari kanal YouTube tvOne pada Kamis, 21 Mei 2026.

Adapun kelemahan itu di antaranya Pakistan pernah berkonflik dengan Teheran di perbatasan. Sedangkan dengan Amerika, posisinya juga tidak seimbang. 

"Pakistan itu negara yang sedang berkembang dan penuh dengan masalah. Di dalam negeri juga dia penuh dengan masalah, sehingga tidak mempunyai kekuatan pemaksa yang menekan kepada kedua belah pihak untuk taat perundingan," jelasnya.

Alasan itulah yang kemudian diyakini Siti Pakistan tidak kuat untuk menekan kedua negara tersebut.

Amerika sendiri memberi isyarat yang cukup berat terhadap Republik Islam, yakni menghancurkan pangkalan nuklir atau dilarang mengembangkan uranium yang disebut-sebut telah mencapai 60 persen.  

Potret Ilustrasi

Photo :
  • Istimewa/ tangkapan layar YouTube

Menurut Siti, itu satu hal yang tidak mungkin dikabulkan oleh Teheran.

Halaman Selanjutnya
img_title