Akademisi Dorong Data yang Berkualitas: Ini Bukan Sekadar soal Server
- Istimewa
Siap – Indonesia tidak akan menjadi bangsa digital yang berdaulat hanya karena memiliki lebih banyak data. Lantas bagaiman tanggapan akademisi menyikapi hal ini?
Sebagaimana dikketahui, Indonesia saat ini tengah menghadapi gempuran data digital yang nyaris tak terbendung.
Sejumlah pihak menilai, tantangan yang jauh lebih menentukan adalah apakah data tersebut berkualitas, dapat dipercaya, aman, dipahami konteksnya, serta dikelola untuk menghasilkan manfaat bagi masyarakat.
Pesan tersebut mengemuka dalam FGD bertajuk “Data Sovereignty & Quality in Digital Era” .
Agenda yang dihadiri sejumlah akademisi ini diselenggarakan Klinik Digital bersama Universitas Bina Sarana Informatika (BSI), di Kampus Universitas BSI, Jakarta.
Forum ini menghadirkan Prof Zulhamri Abdullah dari Department of Communication, Universiti Putra Malaysia (UPM), dan Dr Dini Maghfirra selakui Direktur Data Pembangunan dan Pemerintahan Digital Bappenas sekaligus Executive Director Sekretariat Satu Data Indonesia.
Paparan keduanya mempertemukan dua perspektif yang selama ini sering dibicarakan secara terpisah yaitu bagaimana menghasilkan bukti yang dapat dipercaya dan bagaimana negara membangun tata kelola data yang berkualitas dan berdaulat.
Kegiatan dibuka oleh Dekan Fakultas Komunikasi dan Bahasa Universitas BSI, Dr. Anisti, kemudian Ita Suryani selaku moderator.
Delegasi Universiti Putra Malaysia dipimpin Youna C. Bachtiar, Ruslan Ramli dan Bahlian Siregar. Hadir pula Devie Rahmawati dan Wiratri Anindhita dari Klinik Digital.
Kedaulatan Data Dimulai dari Kemampuan Mendengar
Zulhamri mengingatkan bahwa di tengah obsesi terhadap big data dan AI, kualitas pengetahuan tidak selalu ditentukan oleh banyaknya data.
Dalam riset sosial, FGD justru memiliki kekuatan karena mampu menangkap sesuatu yang kerap hilang dalam angka: bagaimana manusia saling mempertanyakan, memperluas, menantang, dan membentuk makna bersama.
“Data sovereignty starts with listening. Sebelum berbicara tentang bagaimana data disimpan dan diproses, kita harus memastikan bahwa data tersebut benar-benar merepresentasikan pengalaman, konteks, perbedaan, bahkan suara yang mungkin tidak dominan,” ujar akademisi dari Malaysia itu.
Menurutnya, teknologi dapat membantu analisis, tetapi tidak dapat mengambil alih tanggung jawab intelektual peneliti.
Perangkat lunak dapat menemukan pola, namun interpretasi tetap memerlukan rigorous coding, refleksivitas, keamanan data, serta researcher judgement.