Klinik Digital Dorong Kampus Jadi Penjaga Kedaulatan Data di Tengah Gempuran AI
- Istimewa
Siap – Unit Riset dan Inovasi Berdampak Sekolah Vokasi Universitas Indonesia (UI) bersama Klinik Digital menggelar sharing session penelitian bertajuk “From Data Cleaning to Data Sovereignty: Building Trustworthy Text Mining for Research”.
Agenda tersebut dinilai penting di tengah ledakan kecerdasan artifisial, big data, dan berbagai platform digital yang semakin menentukan bagaimana pengetahuan diproduksi.
Pertanyaan penting bagi dunia akademik kini bukan lagi sekadar seberapa banyak data yang dapat diolah?
Tetapi siapa yang mengendalikan data, siapa yang menentukan maknanya, dan siapa yang memperoleh manfaat darinya?
Merespon hal tersebut, salah satu pembicara yakni Prof Zulhamri Abdullah dari Department of Communication, Faculty of Modern Languages and Communication, Universiti Putra Malaysia (UPM) mengingatkan, bahwa text mining memungkinkan peneliti mengolah data bahasa dalam jumlah sangat besar, mulai dari transkrip wawancara, dokumen kebijakan, berita, komentar daring hingga jawaban terbuka survei.
Namun, kemampuan komputasi tidak menggantikan manusia dalam menentukan makna dan interpretasi.
“Teknologi dapat membantu kita menemukan pola, tetapi interpretasi tetap merupakan tugas manusia dan harus berpijak pada teori. Karena itu, semakin kuat kemampuan teknologi kita membaca data, semakin besar pula tanggung jawab peneliti untuk memastikan bahwa kesimpulan yang dihasilkan dapat dipercaya,” ujar Zulhamri dalam sesi diskusi yang berlangsung di Magister Terapan Industri Kreatif, Sekolah Vokasi UI pada Minggu, 9 Agustus 2026.
Menurutnya, salah satu pesan penting dalam diskusi adalah bahwa data cleaning bukan sekadar pekerjaan teknis.
Zulhamri menilai, setiap keputusan untuk menghapus, mengubah, menyeragamkan atau mempertahankan bagian tertentu dari data berpotensi mengubah bukti yang akhirnya digunakan untuk menghasilkan kesimpulan penelitian.
Bahkan penghapusan satu kata dapat mengubah makna frasa not trustworthy, misalnya, menjadi menyesatkan apabila kata not terhapus dalam proses pembersihan.
“Data cleaning adalah keputusan metodologis. Setiap tindakan terhadap data mengubah evidence. Karena itu, peneliti harus mampu menjelaskan apa yang dibersihkan, apa yang dipertahankan, dan mengapa keputusan tersebut dibuat,” jelas Zulhamri.
Lulusan Cambridge University ini, juga mengingatkan bahaya menganggap keluaran AI atau algoritma sebagai kebenaran final.