Rudal Iran Mengarah ke Markas AS, Pesan Keras Teheran Bikin Dunia Waspada
- Gemini AI
Siap – Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dilaporkan meluncurkan serangan rudal balistik dan drone yang menyasar pangkalan militer Amerika Serikat di Yordania.
Aksi tersebut dinilai sebagai sinyal bahwa Teheran masih menaruh kecurigaan besar terhadap komitmen Washington, meski sebelumnya sempat muncul kesepakatan gencatan senjata.
Pengamat Timur Tengah, Faisal Assegaf, mengungkapkan bahwa sasaran terbaru serangan Iran adalah Pangkalan Udara Muwaffaq Salti yang berada di Azraq, Yordania.
"Yang terbaru perkembangannya Iran baru meluncurkan peluru kendali ke Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Yordania," kata Faisal Assegaf, dikutip dari kanal YouTube tvOne, Rabu, 29 Juli 2026.
Menurut laporan tersebut, IRGC menembakkan sejumlah rudal balistik dan drone ke beberapa fasilitas militer yang digunakan pasukan Amerika Serikat di Yordania, termasuk Pangkalan Udara Muwaffaq Salti.
Pihak IRGC mengklaim serangan mereka berhasil menembus sistem pertahanan lawan.
Namun, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan sebagian besar, bahkan seluruh rudal yang diluncurkan Iran berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara.
Faisal menilai langkah Iran dipicu oleh hilangnya kepercayaan terhadap Amerika Serikat.
"Saya kira ya seperti kata Pemimpin Tertinggi, Mojtaba Khamenei yang menyebut Amerika tidak bisa dipercaya. Itu kan pernyataan terakhirnya," ucap Faisal.
Ia juga menyinggung pernyataan Mojtaba Khamenei yang mempertanyakan kredibilitas Presiden Amerika Serikat Donald Trump setelah kesepakatan gencatan senjata disebut tidak dijalankan sebagaimana mestinya.
"Tanda tangan Presiden Amerika Donald Trump itu enggak kredibel, karena itu pun tidak berlaku atau tidak dilaksanakan," jelasnya.
Faisal menilai perkembangan tersebut memperlihatkan Iran ingin membuktikan keseriusannya dalam menghadapi Amerika Serikat.
"Saya kira yang seperti pernah ada pernyataan bahwa Iran sudah menyatakan perang total ya. Artinya Iran ingin membuktikan itu," sambung Faisal.
Menurutnya, sejak konflik kembali memanas pada 28 Februari 2026, Iran berupaya menunjukkan bahwa mereka mampu memberikan tekanan besar terhadap Amerika Serikat.
"Saya kira ini enggak akan pernah dilupakan. Sebuah negara besar sekarang status dan pamornya hancur dirusak oleh Iran," tuturnya.
Ia bahkan menilai situasi tersebut turut berdampak terhadap citra Presiden Donald Trump maupun Amerika Serikat di mata dunia.