Ketegangan Iran-AS Memuncak, Ancaman Saling Balas Bermunculan
- Istimewa
Siap – Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkat setelah muncul laporan mengenai dugaan ancaman terhadap Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Isu tersebut mencuat di tengah eskalasi konflik militer kedua negara yang masih terus berlanjut dengan aksi saling balas serangan.
Iran disebut tengah menyiapkan skenario yang diklaim mengarah pada upaya pembunuhan terhadap Donald Trump.
Laporan tersebut langsung mendapat respons keras dari Trump.
Presiden Amerika Serikat itu menegaskan negaranya akan memberikan balasan besar apabila Iran benar-benar berani melakukan atau mencoba melakukan serangan terhadap dirinya.
Dikutip dari kanal YouTube Kompas pada Sabtu, 11 Juli 2026, ancaman tersebut disampaikan Trump melalui unggahan di akun media sosial pribadinya.
Dalam unggahan itu, Trump mengklaim Amerika Serikat telah menyiagakan sekitar 1.000 rudal yang diarahkan ke Iran dan siap digunakan sewaktu-waktu.
Ia juga menyatakan militer Amerika Serikat akan tetap berada dalam kondisi siaga tempur selama satu tahun ke depan, bahkan dapat diperpanjang apabila diperlukan untuk menghancurkan seluruh wilayah Iran.
Sebelumnya, dalam konferensi pers di Ankara, Turkiye, pada Rabu, 8 Juli 2026, Trump mengaku dirinya kini menjadi target utama rencana pembunuhan yang disebut berasal dari pemerintah Iran.
Meski demikian, ia mengaku tidak merasa gentar dan tetap fokus menjalankan tugas sebagai Presiden Amerika Serikat.
"Ini profesi yang sangat berbahaya. Saya nomor satu dalam daftar target pembunuhaan Iran, tapi saya tidak peduli, karena saya melakukan pekerjaan saya," katanya.
Setelah pernyataan tersebut, otoritas Israel dilaporkan menyerahkan informasi intelijen terbaru kepada pemerintah Amerika Serikat.
Informasi itu disebut berisi dugaan adanya rencana baru yang disusun Teheran untuk membunuh Donald Trump.
Meski isu tersebut telah beredar luas, Kedutaan Besar Israel di Washington maupun Gedung Putih belum memberikan tanggapan resmi.
Sementara itu, misi Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga belum mengeluarkan pernyataan terkait laporan tersebut.
Isu ancaman terhadap Donald Trump sebenarnya bukan hal baru.
Mengutip The Wall Street Journal, selama beberapa tahun terakhir Iran secara terbuka menyatakan keinginannya membalas kematian Jenderal Qassem Soleimani.