Ketegangan Iran-AS Memuncak, Ancaman Saling Balas Bermunculan
- Istimewa
Komandan senior Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) itu tewas dalam serangan drone Amerika Serikat yang dilakukan atas perintah Donald Trump pada 3 Januari 2020 saat menjabat sebagai presiden.
Seruan untuk membalas kematian Soleimani, termasuk ajakan membunuh Trump, juga kembali terdengar dalam rangkaian prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam, Ayatollah Ali Khamenei.
Di sisi lain, berdasarkan laporan CBS News dan Euro News, Kepala Staf sekaligus Wakil Koordinator Angkatan Bersenjata Iran, Laksamana Muda Habibollah Sayyari, menegaskan pasukan Iran siap mengubah wilayah pesisir negara itu menjadi "neraka" bagi militer Amerika Serikat apabila terjadi serangan.
Ia menegaskan kekuatan militer, kepolisian, serta pasukan IRGC telah berada dalam posisi yang siap sehingga lawan diyakini akan berpikir ulang sebelum melakukan pendaratan di wilayah pesisir Iran.
"Musuh menyadari bahwa upaya apa pun untuk mendaratkan pasukan di pesisir Iran sama saja dengan memasuki neraka dunia yang tidak memiliki jalan keluar," katanya.
Sayyari juga menegaskan bahwa Iran tidak gentar menghadapi ancaman apa pun dari pihak lawan.
"Respons kami jelas, jika kalian punya nyali, silahkan datang," tegas Sayyari dikutip dari IRNA.
Sebelumnya, Amerika Serikat dan Iran kembali terlibat aksi saling serang ketika proses perundingan untuk mengakhiri konflik secara permanen masih berlangsung.
Washington lebih dahulu melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran dengan alasan untuk mengurangi ancaman terhadap jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz.
Dalam operasi tersebut, Amerika Serikat dilaporkan menyerang sekitar 90 sasaran militer di Iran yang mengakibatkan lebih dari selusin orang meninggal dunia.
Sebagai respons, Iran meluncurkan rudal dan drone yang menyasar pangkalan serta aset militer Amerika Serikat di Kuwait, Bahrain, dan Qatar.
Teheran menyebut serangan itu sebagai tahap awal balasan atas operasi militer yang dilakukan Washington.