Iran Tolak Semua Konsesi, Mediator Peringatkan 48 Jam Terakhir Perdamaian
- Istimewa
Siap – Mediator internasional memberikan peringatan keras kepada Iran: dua hari ke depan adalah kesempatan terakhir untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata.
Namun, Teheran tetap pada pendiriannya.
Mereka menolak memberikan konsesi apapun terkait dua kartu truf utama—Selat Hormuz dan program pengayaan uranium.
Di tengah ancaman serangan besar-besaran Amerika Serikat (AS)-Israel terhadap infrastruktur sipil Republik Islam, negosiasi di belakang layar terus berjalan panas.
AS mengusulkan gencatan senjata 45 hari sebagai langkah pertama menuju pengakhiran perang secara permanen.
Namun, Iran memasang harga mati.
Mereka tidak bersedia menyerahkan dua isu paling krusial hanya sebagai imbalan jeda sementara.
Bagi Teheran, membuka Selat Hormuz untuk musuh dan melepas aset uranium adalah urusan yang hanya bisa dinegosiasikan dalam kesepakatan final—bukan sekadar gencatan senjata.
Jalan Dua Tahap Menuju Damai yang Terjal
Menurut laporan Axios yang dikutip oleh berbagai media internasional pada 5-6 April 2026, mediator dari Pakistan, Mesir, dan Turki sedang berupaya keras menjembatani perbedaan antara Washington dan Teheran.
Usulan yang dibahas adalah kesepakatan dua tahap. Tahap pertama adalah gencatan senjata selama 45 hari.
Jeda ini akan digunakan untuk merundingkan pengakhiran perang secara permanen.
Jika diperlukan, masa gencatan senjata dapat diperpanjang.
Tahap kedua adalah pengakhiran permanen perang.
Dalam tahap inilah, mediator berharap kedua belah pihak dapat mencapai kesepakatan tentang pembukaan penuh Selat Hormuz dan solusi atas stok uranium pengayaan tinggi Republik Islam.
Masalahnya, Teheran menolak memberikan konsesi apa pun di tahap pertama.
Mereka menganggap dua isu tersebut—Selat Hormuz dan uranium—sebagai alat tawar utama yang tidak bisa diserahkan hanya dengan imbalan gencatan senjata 45 hari.
Selat Hormuz: 'Tidak akan Kembali Seperti Dulu'
Potret Antrian kapal yang tertahan di Selat Hormuz
- Istimewa
Salah satu poin paling kritis dalam negosiasi adalah status Selat Hormuz.
Sejak perang meletus pada 28 Februari 2026, Teheran mengambil kendali penuh atas jalur perairan strategis ini.
Bagi Teheran, Selat Hormuz saat ini adalah garis depan pertahanan.
Mereka menutup selat tersebut untuk kapal-kapal AS, Israel, dan negara mana pun yang membantu agresi terhadap Republik Islam.