Perang Iran Bikin Trump Linglung, Ini Sederet Buktinya
- Istimewa
Laporan Wall Street Journal juga membeberkan, Trump secara pribadi mengakui kepada para penasihatnya, bahwa Teheran terbukti jauh lebih tangguh dari perkiraan awal.
Kampanye tekanan maksimum yang diandalkan sejak masa jabatan pertamanya gagal memaksa Teheran menyerah.
Sebaliknya, Republik Islam justru merebut kendali atas Selat Hormuz jalur vital pengiriman seperlima minyak dunia.
Kebuntuan selama 5 bulan ini pun kian meruncing.
Pada negosiasi terbaru, Iran mengajukan syarat berat jika AS ingin Selat Hormuz dibuka kembali.
Yakni Amerika harus membayar ganti rugi atas kerusakan akibat perang 5 bulan terakhir.
Trump menolak keras, dan membalas melalui truth sosialnya bahwa Iran-lah yang harus membayar kompensasi atas hilangnya nyawa pasukan AS selama puluhan tahun.
Ahli nuklir Eric Breuer menilai, blokade AS memang memperburuk ekonomi Republik Islam, tetapi Teheran tidak akan tinggal diam.
Menurutnya, Teheran memiliki daya tahan jauh lebih tinggi daripada Amerika Serikat.
Dan AS kini tidak memiliki pilihan yang benar-benar baik, karena yang ada hanyalah pilihan buruk.
Dampak politiknya mulai menggerogoti internal Amerika.
Jejak pendapat Associated Press Noryse menunjukkan, tingkat persetujuan publik AS terhadap cara Trump menangani perang merosot hingga 28 persen.
Partai Republik ini mulai cemas perang yang berlarut-larut ini akan menghancurkan peluang mereka dalam pemilu sela bulan November mendatang.
Terjebak Strategi Perang Teheran
Analisis dari New York Times dan Reuters menggambarkan betapa terjebaknya Trump saat ini.
Seperti dicatat oleh New York Times, Trump mungkin ingin melepaskan diri dari Timur Tengah, namun kawasan itu menolak melepaskannya.
Di saat Trump berusaha bersikap tenang dan mengibaratkan tekanannya seperti permainan catur, realitas di lapangan menampar keras.
Di lain sisi, harga bensin di Amerika Serikat bertahan di atas 4 dolar per galon, naik lebih dari 1 dolar sejak serangan ke Teheran dimulai pada 28 Februari lalu.
Suzan Malone dari Brookings Institution menyebut, titik-titik tekanan ekonomi yang dialami Iran masih jauh lebih bisa ditanggung Teheran daripada dampak ekonomi yang merusak perhitungan strategis AS.
Laporan Reuters mempertegas dilema ini. Trump terjebak di antara dua pilihan yang sama-sama berbahaya.