Taktik Teheran Bikin AS Terus Tertekan, Mengapa Iran Tak Ingin Cepat Damai?
- Istimewa
Siap – Konflik antara Amerika Serikat dengan Iran belum menunjukan tanda-tanda akan mereda. Serangan rudal Teheran ke pangkalan militer AS di Yordania justru memicu pertempuran babak baru.
Disitat dari kanal YouTube Kompas, di saat banyak pihak mengharapkan perdamaian, Teheran diduga memilih mempertahankan konflik terbatas. Lalu apa yang sebenarnya ingin dicapai Republik Islam tersebut?
Hingga saat ini Amerika Serikat dan Iran sama-sama belum menunjukkan tanda siap menghadapi perang terbuka berskala penuh.
Bagi Washington, konflik yang semakin luas berisiko mengganggu infrastruktur energi di Timur Tengah, menaikkan harga minyak dunia, serta menarik lebih banyak negara ke dalam konflik.
Di sisi lain, Republik Islam juga menghadapi pertahanan udara yang melemah, infrastruktur yang rentan, dan ekonomi yang masih dibebani sanksi.
Karena itu, kedua pihak diperkirakan lebih memilih menahan konflik agar tidak berkembang menjadi perang total.
Bagi Teheran, berakhirnya pertempuran belum tentu membawa keuntungan. Meski konflik berhenti, blokade Amerika Serikat terhadap pelabuhan Iran diperkirakan tetap berlangsung.
Begitu pula dengan sanksi ekonomi. Akibatnya, Teheran tetap akan menghadapi kesulitan menjual minyak dan kembali ke pasar energi dunia.
Ilustrasi Presiden AS Donald Trump soal Iran
- Istimewa
Sementara itu, negara-negara seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar berpeluang kembali menjalankan ekspor secara normal.
Kondisi tersebut membuat posisi ekonomi Republik Islam berisiko semakin tertinggal meski perang berakhir.
Teheran berupaya mengubah posisi diplomasinya di Selat Hormuz.
Meski menanggung kerugian militer dan ekonomi, gangguan di Selat Hormuz dan jalur pelayaran Beb Al Mandep tetap mempengaruhi perdagangan global, biaya asuransi kapal, serta pasar energi dunia.
Ketidakpastian di dua jalur strategis tersebut membuat banyak negara, perusahaan, pelayaran, dan importir energi tetap memperhatikan sikap Teheran.
Selain mempertahankan daya tawar, Republik Islam juga diduga ingin mengubah arah diplomasi di kawasan.
Teheran berulang kali memberi sinyal, bahwa lalu lintas kapal di Selat Hormuz seharusnya berjalan berdasarkan aturan yang disepakati bersama, atau berada di bawah pengawasan Iran.
Jika tujuan itu tercapai, pembukaan kembali Selat Hormuz tidak hanya mengembalikan kondisi sebelum perang, tetapi juga mengakui pengaruh Republik Islam di kawasan.