Donald Trump Akui AS Kesulitan Hadapi Iran yang Tangguh: Jadi Saya Memberi Mereka Penghargaan untuk Itu

Ilustrasi Presiden AS Donald Trump soal Iran
Sumber :
  • Istimewa

Siap – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengakui,  Iran adalah lawan yang tak bisa disepelekan. Menurutnya, negara tersebut terlalu tangguh. 

img_title Iran Kirim Sinyal Tak Terduga, Perang dengan Amerika Bisa Segera Berakhir?

Disitat dari kanal YouTube Kompas, Presiden Trump mengakui, Iran masih menjadi lawan yang tangguh di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. 

Meski ia menilai kemampuan militer Republik Islam itu akan terus melemah, namun Trump mengatakan bahwa Teheran belum menunjukkan tanda-tanda menyerah. 

img_title Ancaman Iran Makin Panas, Kali Ini Negara Pendukung AS Jadi Sasaran

Dalam sesi tanya jawab bersama wartawan, Trump juga menyatakan, bahwa Teheran masih memiliki kemampuan untuk melakukan serangan balasan.

Meski demikian, ia meyakini kemampuan tersebut akan terus menurun seiring berjalannya waktu. 

img_title Heboh Presiden Iran Tiba-tiba Ingin Akhiri Perang dengan AS, Ada Apa? Heboh Presiden Iran Tiba-tiba Ingin Akhiri Perang

"Yah, Anda tidak pernah tahu. Lihat, maksud saya, kebanyakan orang pasti sudah menyerah saat itu. Anda tahu, mereka tidak punya angkatan laut. Mereka tidak punya angkatan udara. Kebanyakan orang pasti sudah menyerah, tapi mereka tidak," katanya. 

Potret ilustrasi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

Photo :
  • Istimewa

"Jadi saya memberi mereka penghargaan untuk itu. Maksud saya, mereka dikenal sebagai orang yang tangguh. Mereka memang tangguh," sambungnya. 

Trump juga mengatakan, pemerintahannya tetap menjalin komunikasi dengan Teheran melalui sejumlah pejabat tinggi. 

Namun, menurutnya proses negosiasi sering terhambat karena Teheran, Iran disebut tidak konsisten dengan hasil pembahasan. 

Trump mengaku kehilangan kepercayaan setelah Teheran disebut menembakkan lima rudal ke pangkalan militer Amerika Serikat di Yordania saat negosiasi masih berlangsung.

Menurutnya, utusan khusus Steve Witkoff, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, hingga Wakil Presiden JD Vance terlibat dalam proses diplomasi tersebut. 

Namun Trump menilai pihak Republik Islam sering mengingkari hasil pembahasan yang sudah dilakukan. 

"Yah, mereka selalu ingin berbicara, tetapi mereka sering mengingkari janji. Steve sedangkan berbicara, Jared. Kita memiliki orang-orang yang sangat baik. JD terlibat, sangat terlibat. Kita memiliki orang-orang hebat yang berbicara. Marco terlibat," tuturnya. 

Elit Militer AS Terpecah

Ambisi Presiden Amerika Serikat, Donald Trump untuk melakukan serangan 14 hari ke wilayah Republik Islam Iran menuai pro dan kontra di kalangan petinggi militer AS. 

Dikutip dari kanal YouTube Kompas, Presiden AS Donald Trump mempertimbangkan serangan udara intensif terhadap Iran selama 10 hingga 14 hari. 

Halaman Selanjutnya
img_title