Peringatan Darurat, Iran Ancam Berondong Negara Sekutu AS
- Istimewa
Siap – Republik Islam Iran secara resmi mengeluarkan peringatan darurat untuk warga sipil yang berada di kawasan Teluk sekutu Amerika Serikat.
Peringatan darurat ini khususnya ditujukan untuk warga sipil yang berada di sekitar markas atau pangkalan militer Amerika Serikat (AS).
Iran meminta warga sipil yang berada di kawasan teras menjauh minimal 500 meter dari seluruh pangkalan militer Amerika Serikat.
Karena wilayah sekutu AS tersebut terancam dibombardir rudal.
Tolak damai Amerika, Iran siapkan ancaman rudal ke wilayah Israel
- Istimewa
Eskalasi ini pecah setelah kesepakatan gencatan senjata batal akibat aksi saling serang yang kembali memanas antara militer AS dan Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC.
Pasukan elit Republik Islam itu mengimbau warga sipil di negara-negara Arab sekutu AS untuk menjauhi pangkalan militer Washington demi keselamatan mereka.
Komando Pusat Khatam Al-Anbiya Iran juga menegaskan bakal menghancurkan infrastruktur energi, kilang minyak, gas, dan pembangkit listrik di seantero Timur Tengah jika AS berani mengebom fasilitas vital Teheran.
Sejumlah wilayah pangkalan militer AS dan fasilitas sekutu di Teluk seperti Kuwait, Bahrain, Oman, Yordania, dan Suriah dilaporkan telah menjadi target serangan drone serta rudal Teheran.
Gencatan Senjata Kolaps
Sebagaimana diketahui, nota perdamaian yang sempat disepakati pada 18 Juni 2026 dinyatakan tidak berlaku lagi oleh Presiden AS Donald Trump.
Keputusan ini berlaku setelah militer AS kembali melancarkan pengeboman udara sejak 8 Juli 2026.
Komando Pusat AS (CENTCOM) menggempur habis-habisan gudang rudal, pertahanan udara, dan fasilitas maritim Iran dengan dalih mengamankan jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz.
Tak tinggal diam, Teheran langsung membalas serangan tersebut dengan menghancurkan markas AS di kawasan Teluk.
Rudal balistik Republik Islam Iran
- Tangkapan layar YouTube Kompas
Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam, Mojtaba Khamenei, menegaskan komitmen nasional untuk membalas kematian ayahnya, Ayatullah Ali Khamenei, serta korban jiwa lainnya akibat serangan AS-Israel.
AS Minta Berunding Lagi
Pengamat Hukum dan Hubungan Internasional, Abdullah Assegaf memprediksi bahwa perang antara Republik Islam dengan Amerika Serikat tidak akan berakhir dalam waktu dekat.
Hal itu terjadi lantaran Amerika Serikat atau AS telah banyak melanggar nota kesepahaman yang sudah disepakati pada 17 Juni 2026, lalu.