Serangan Iran Makin "Menggila" Bikin AS Frustasi, Washington Minta Damai, Petualangan Trump Berakhir?
- Istimewa
Siap –Presiden AS Donald Trump dikabarkan tengah dirundung kekesalan mendalam.
Ia menilai sejumlah negara sekutu Amerika Serikat di kawasan Teluk terlalu lemah dalam menangkal gempuran serangan dari Iran.
Kemarahan Trump memuncak, khususnya terhadap Yordania, setelah tiga prajurit AS tewas akibat serangan mendadak di negara tersebut pada Jumat, 17 Juli 2026.
Dikutip dari kanal YouTube tvOne, saat berbicara dengan Presiden Lebanon Joseph Aoun, Trump menegaskan bahwa insiden berdarah itu tidak akan pernah terjadi jika penanganan serangan diserahkan sepenuhnya kepada pasukan atau personel Amerika Serikat.
IRGC Klaim Hancurkan Radar AS
Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC mengklaim bahwa serangan mematikan di Yordania berhasil menghantam pangkalan militer Amerika Serikat serta menghancur sistem radar milik Washington.
Tak hanya pangkalan militer, fasilitas vital milik perusahaan raksasa Amerika Serikat seperti Amazon di Bahrain juga tak luput dari sasaran balasan Teheran.
IRGC turut menyindir Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth yang dianggap sengaja menyembunyikan jumlah korban sebenarnya sambil menobatkan prajurit yang gugur sebagai pahlawan.
Sejak konflik memanas, negara-negara Arab memang berada dalam posisi serba salah.
Republik Islam Iran gencar melancarkan aksi balasan karena menganggap negara-negara tetangganya menampung aset militer AS dan mengizinkan wilayah mereka dijadikan pijakan serangan.
Meskipun Bahrain, Kuwait, Qatar, Oman, Uni Emirat Arab atau UEA, hingga Arab Saudi telah membantah tegas dan menyatakan tidak ingin terlibat dalam pertempuran, eskalasi di lapangan terus memanas.
AS Minta Berunding, Iran Pilih Melawan
Di tengah tekanan militer yang makin berat, muncul rumor Washington ingin kembali duduk di meja perundingan.
Namun, Pengamat Hukum dan Hubungan Internasional, Abdullah Assegaf, memprediksi perang antara Republik Islam Iran dengan Amerika Serikat tidak akan selesai dalam waktu dekat.
Menurut Assegaf, AS dinilai kerap melanggar nota kesepahaman, termasuk kesepakatan terbaru pada 17 Juni 2026 lalu.
"Sehingga dalam perspektif Republik Islam Iran, mereka tidak akan melewatkan kesempatan untuk memberikan kesempatan kepada Amerika Serikat," katanya dikutip dari kanal YouTube tvOne pada Jumat, 24 Juli 2026.