Iran Kirim Sinyal Keras, Israel Bisa Terseret Lagi ke Medan Perang

Potret ilustrasi perang Iran vs Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Sumber :
  • siap.viva/AI

Siap – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Republik Islam Iran kembali meningkat setelah upaya diplomasi untuk menghentikan konflik dilaporkan gagal mencapai kesepakatan.

img_title AS Ngos-ngosan Hadapi Perang Iran, Temuan Pentagon Bertolak Belakang dengan Klaim Trump, Nah Loh

Situasi tersebut memicu ancaman baru dari Teheran yang menyatakan siap memperluas medan perang apabila Washington mengambil langkah militer lebih jauh.

Berdasarkan laporan yang dikutip dari kanal YouTube Kompas, Iran secara tegas menolak usulan gencatan senjata yang diajukan Amerika Serikat.

img_title Tak Banyak Diketahui, Begini Operasi Nekat AS di Dalam Wilayah Iran

Penolakan itu disertai peringatan bahwa Israel akan menjadi sasaran apabila pemerintahan Presiden Donald Trump memutuskan menyerang wilayah maupun infrastruktur strategis Iran.

Mengutip The Times of Israel, dua pejabat Republik Islam menyatakan bahwa fase berikutnya dalam eskalasi konflik berpotensi melibatkan serangan langsung ke Tel Aviv.

img_title Misteri Pilot F-15 AS di Iran: Nama Disamarkan Wajah Malah Terpampang Jelas TV, Pentagon Kebobolan?

Ancaman tersebut disebut akan direalisasikan jika Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Teheran beserta fasilitas-fasilitas penting milik Iran.

Selain mengancam Israel, Teheran juga disebut akan meminta kelompok Houthi di Yaman menerapkan blokade pelayaran di Selat Bab el-Mandeb apabila konflik semakin meluas.

Pada fase pertama perang yang dimulai 28 Februari 2026, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) diketahui ikut terlibat dalam operasi militer terhadap Iran.

Sebagai balasan, Iran meluncurkan ratusan rudal balistik ke wilayah Tel Aviv.

Namun, dalam beberapa pekan terakhir Israel tidak lagi terlibat langsung dalam serangan, sehingga Iran juga belum kembali melancarkan serangan ke negara tersebut.

Ancaman terbaru muncul setelah Iran menolak proposal gencatan senjata yang dibawa para mediator dari Irak di tengah operasi militer Amerika Serikat.

Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi sebelumnya mengunjungi Teheran dengan membawa rancangan kesepakatan yang disusun setelah pertemuannya dengan Presiden Donald Trump di Gedung Putih pada awal Juli 2026.

Namun, para pejabat Iran menegaskan mereka tidak tertarik pada kesepakatan sementara yang tidak menyelesaikan persoalan utama, termasuk status Selat Hormuz.

Dalam kunjungannya, Perdana Menteri Irak juga menyerukan penyelesaian konflik melalui dialog serta menegaskan negaranya tidak akan mengizinkan wilayah Irak digunakan sebagai basis serangan terhadap Iran.

Di sisi lain, Amerika Serikat dilaporkan terus meningkatkan tekanan militer.

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyebut operasi yang telah memasuki malam ke-13 itu ditujukan untuk melemahkan kemampuan militer Iran serta mengurangi ancaman terhadap jalur pelayaran internasional.

Halaman Selanjutnya
img_title