Perang Semakin Memanas, Rudal dan Drone Iran Hantam Sejumlah Basis Militer AS

Potret ilustrasi Amerika Iran
Sumber :
  • Istimewa

SiapKonflik militer antara Republik Islam Iran dan Amerika Serikat kembali memasuki fase yang lebih berbahaya.

img_title Selat Hormuz Mendidih! Trump Sesumbar Soal Kesepakatan, Iran: Lebih Mengerikan dari Perang Dunia Dua?

Aksi saling serang yang terus berlangsung di kawasan Teluk memicu kekhawatiran dunia karena berpotensi mengganggu stabilitas keamanan regional sekaligus jalur pelayaran internasional yang menjadi urat nadi perdagangan global.

Dalam perkembangan terbaru, Iran meningkatkan operasi militernya dengan meluncurkan rentetan rudal balistik dan pesawat nirawak (drone) ke sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di Timur Tengah.

img_title Bukan Sekadar Soal Iran, Laporan Ini Disebut Bisa Mengubah Perhitungan Militer AS

Serangan tersebut merupakan respons atas berakhirnya gencatan senjata serta rangkaian serangan udara yang sebelumnya dilancarkan militer AS ke berbagai wilayah Iran.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan salah satu sasaran utama operasi tersebut adalah Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar, yang merupakan instalasi militer terbesar milik Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

img_title Heboh Ketegangan di Gedung Putih Bocor, Menhan AS Diamuk Trump Terkait Perang Iran

Selain Al Udeid, serangan juga diarahkan ke sejumlah fasilitas militer AS di Kuwait, termasuk Camp Arifjan dan Ali Al Salem, Markas Armada Kelima AS di Bahrain, hingga pangkalan udara Amerika di Yordania dan Arab Saudi.

Iran disebut mengerahkan drone bunuh diri Shahed-136 serta rudal balistik dalam operasi tersebut.

Menurut laporan yang beredar, sejumlah proyektil berhasil menembus sistem pertahanan dan menghantam berbagai fasilitas strategis.

Target yang terdampak meliputi pusat komunikasi satelit, gudang amunisi, sistem pertahanan udara Patriot, fasilitas logistik, hingga instalasi radar militer Amerika Serikat.

Dalam operasi ini, IRGC mengklaim menggunakan berbagai rudal balistik presisi, baik berbahan bakar padat maupun cair, seperti Khyber Shekan, Zulfiqar, Sajil, Emad, Qadr, dan Fateh-110.

Sebelumnya, Amerika Serikat lebih dahulu melancarkan operasi militer udara secara beruntun ke wilayah Republik Islam Iran yang menghantam berbagai aset strategis.

Setelah berlangsung selama tujuh hari, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan berakhirnya operasi udara tersebut pada Jumat, 17 Juli 2026 pukul 21.30 waktu setempat.

Operasi yang dijalankan atas perintah Presiden Donald Trump itu dimulai sejak 8 Juli 2026 sebagai respons terhadap tindakan Iran terhadap kapal-kapal komersial yang melintas di Selat Hormuz.

Sepanjang operasi berlangsung, militer AS menyerang berbagai fasilitas penting Iran, mulai dari pusat pengawasan radar, jaringan logistik militer, gudang penyimpanan senjata bawah tanah, hingga infrastruktur pendukung kekuatan maritim Teheran.

Halaman Selanjutnya
img_title