Dampak Perang Iran Terbongkar, Israel dan AS Disebut Hadapi Tantangan Besar
- Istimewa
Siap – Perang antara Iran dengan Israel serta Amerika Serikat kembali menjadi sorotan setelah beredar laporan mengenai dokumen internal dan analisis pertahanan yang diklaim mengungkap dampak konflik lebih luas dibandingkan informasi yang selama ini disampaikan ke publik.
Sejumlah laporan media internasional menyebut kerusakan infrastruktur hingga tantangan strategis yang dihadapi kedua sekutu tersebut menjadi perhatian baru.
Lantas, sejauh mana isi dokumen dan analisis tersebut menggambarkan kondisi sebenarnya di lapangan?
Mengutip laporan yang dibahas kanal YouTube Kompas dari sejumlah media internasional, konflik di Timur Tengah memunculkan berbagai temuan mengenai dampak serangan Iran terhadap fasilitas vital Israel, sekaligus memunculkan perdebatan mengenai efektivitas strategi militer Amerika Serikat di kawasan.
Dokumen Internal Israel Diklaim Ungkap Kerusakan Lebih Besar
Selama konflik berlangsung, pemerintah Israel beberapa kali menyatakan bahwa serangan rudal Iran tidak menimbulkan gangguan berarti terhadap infrastruktur strategis.
Namun, laporan dari Mehr News Agency menyebut sebuah dokumen internal pemerintah Israel yang bocor memperlihatkan gambaran berbeda mengenai dampak serangan ke kilang minyak Bazan di Teluk Haifa.
Laporan tersebut kemudian diperkuat oleh jaringan berita Quds News Network (QNN) yang mengklaim memperoleh draf dokumen rekonstruksi milik Kementerian Dalam Negeri Israel.
Dalam dokumen itu disebutkan sejumlah fasilitas utama mengalami kerusakan berat, mulai dari turbin gas, boiler uap, sistem kelistrikan, hingga berbagai fasilitas pendukung operasional.
Tak hanya itu, tangki penyimpanan produk minyak berkapasitas sekitar 12.700 meter kubik juga disebut mengalami kerusakan permanen sehingga tidak lagi dapat digunakan.
Apabila informasi tersebut akurat, kondisi itu diperkirakan berdampak langsung terhadap kemampuan produksi bahan bakar di kompleks kilang tersebut.
Temuan tersebut juga dinilai bertolak belakang dengan pernyataan Menteri Energi Israel, Eli Cohen, yang sebelumnya menyebut serangan Iran tidak mengganggu proses produksi maupun distribusi bahan bakar.
Laporan yang sama menyebut area rekonstruksi kini bertambah hampir dua kali lipat dibandingkan rencana awal setelah serangan pada Juni 2025.
Bahkan, proses pemulihan penuh kompleks Bazan diperkirakan baru selesai pada 2028.
Padahal sebelumnya pemerintah Israel telah menyiapkan rencana relokasi kawasan industri petrokimia di Teluk Haifa dengan estimasi kerugian awal mencapai 150 hingga 200 juta dolar AS.