Sebanyak 434 Orang Ikut Program Kepala Desa Masuk Kampus di UI
- istimewa
"Yang pertama kan kita bisa lihat apa yang akan dibawa oleh mereka ke desa masing-masing. Program apa yang akan ditajamkan, potensi apa yang akan dikembangkan. Nah, itu kan akan menjadi data dari kita untuk selanjutnya didampingi dan diberikan insentif," ungkapnya.
Di tempat yang sama, Direktur Jenderal (Dirjen) Bina Pemerintahan Desa Kemendagri, La Ode Ahmad Pidana Bolombo mengatakan, kegiatan ini bertujuan meningkatkan kapasitas pemerintahan desa.
Disini dikolaborasikan antara pengalaman para kades berpraktik pemerintahan, membangun desa, memberdayakan masyarakat dengan teori di kampus.
"Kemudian mereka perlu kita inject dengan pengetahuan yang sifatnya konseptual, yang sifatnya teoritik. Yang jadi mereka, biar berpraktik itu juga punya pendekatan konsep, bahwa ternyata berpraktik atau membina masyarakat, membangun desa itu didukung dengan konsep-konsep yang akan mereka dapatkan selama mengikuti pembelajaran di sini," katanya.
Kegiatan para kades di program ini diawali dari riset, penelitian Kemendagri Bina Pemdes dengan pihak UI. Setelah dilakukan riset kemudian akan diidentifikasi profil dan karakteristik yang ada di desa.
"Setelah kita discuss dengan mereka, lalu hasilnya itu kita analisa untuk merancang program ini. Jadi melibatkan beberapa lintas fakultas yang ada di kampus UI ini," ujarnya.
Dicontohkan misalnya yaitu karakteristik atau potensi unggulan yang ada di desa itu adalah pangan, pertanian, perkebunan, atau perikanan, kelautan, kepariwisataan, atau mungkin dukung transformasi pemerintahan berbasis digital. Itu semua langsung rancang di sini.
"Sehingga mereka kita dudukan di dalam ruang belajar yang diklaster tadi. Kita buat enam klaster di sini yang terdistribusi pada 17 kelas, sehingga mereka belajar itu, itu kompatibel dengan potensi unggulan, kapasitas yang ada di desanya," ungkapnya.
Setelah mengikuti pembekalan materi selama tiga hari, para kades akan terus dibina dan dipantau serta asistensi melalui saluran online.
Lalu secara random akan dilihat mana yang bisa mereka praktikkan ilmu yang didapatkan dan sudah kompatibel dengan potensi desanya .
"Kita pantau, kita monitor. Kalau mereka bisa mempraktikkan itu sebagai desa yang unggul tadi, nanti mereka akan menjadi mentor, bisa direplikasi di desa-desa tetangganya, atau desa-desa lintas kabupaten kah. Mereka akan menjadi semacam best practice-lah pada desa-desa lain," pungkasnya.