Mojtaba Khamenei Berikan Pengampunan Terhadap 2.000 Napi Iran
- Istimewa
Sebab menurut Pizaro, dulu Trump mengatakan Mojtaba itu pemimpin yang lemah, tidak layak memimpin atau menahkodai Iran dan lain sebagainya.
"Tetapi sekarang justru Donald Trump itu ingin bertemu dengan Mojtaba Khamenei. Jadi ini bentuk frustasi dia, standar ganda dia dan tidak kekonsistenan dia, seperti itu dengan sekarang melemparkan sinyal ingin bertemu Mojtaba Khamenei," jelasnya.
Menurut Pizaro ada tiga alasan kuat mengapa Trump memang harus bertemu langsung dengan Mojtaba.
Karena, dalam sistem Iran itu pemimpin tertinggi, panglima tertinggi perang yang ada itu bukannya IRGC, bukan presiden, bukan Menhan, tetapi Mojtaba Khamenei. Dialah supreme leader negara tersebut.
"Makanya kemudian Donald Trump ingin potong kompas ya, karena mungkin deadlock sama pemerintahnya dan mungkin pemerintahnya pun juga nanti akan melempar kembali apapun hasil kesepakatan Amerika kepada Mojtaba."
"Makanya kemudian Trump berpikir, ah, mendingan saya langsung saja bertemu dengan Mojtaba Khamenei, begitu," sambung Pizaro.
Ia lantas menjelaskan, bahwa Mojtaba Khamenei bisa mengatur tiga kekuatan sekaligus di Iran.
"Pertama dia bisa mengatur pemerintahan, dia bisa mengatur IRGC dan dia bisa mengatur parlemen, gitu. Jadi ada tiga lapis yang bisa dikendalikan oleh Mojtaba Khamenei," tuturnya.
Bahkan, kata Pizaro, Mojtaba Khamenei juga berperan besar dalam semua keputusan.
Misalnya menentukan pemimpin IRGC, kepala Menteri Pertahanan, tim negosiasi dengan Amerika Serikat dan lain sebagainya.
"Karena tupoksi kebijakan foreign police-nya Iran itu secara secara umum itu bergantung dengan kesepakatan dari supreme leader," ujarnya.
Kemudian keputusan perang, damai, atau mencari jalan diplomasi itu sangat bergantung dan supreme leader.
Bahkan yang terbaru kan ketika misalkan ada negosiasi untuk memindahkan cadangan uranium Iran ke negara ketiga itu langsung difeto oleh Mojtaba.
"Mojtaba mengatakan, tidak satu inci pun uranium Iran itu boleh pindah ke negara ketiga walaupun itu China, walaupun itu Rusia dan lain sebagainya," kata Pizaro.
Potret ilustrasi
- Istimewa
Menurut dia, Mojtaba berkaca dari pengalaman sang ayah, mendiang Ali Khamenei yang ketika melakukan negosiasi dan menyerahkan uranium toh mereka juga tetap menjadi sasaran serangan Amerika Serikat.