Iran Singgung Utang AS yang Membengkak hingga Rp 711 Kuadriliun
- Istimewa
Siap – Konflik antara Iran dan Amerika Serikat mulai bergeser ke dalam perang ekonomi. Kondisi ini memantik babak baru perseteruan antar dua negara tersebut.
Dikutip dari kanal YouTube Kompas, Iran menyindir kondisi ekonomi Amerika Serikat usai Presiden Donald Trump meluncurkan kampanye tekanan ekonomi besar-besaran terhadap Teheran.
Sindiran itu disampaikan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi pada Kamis, 20 Agustus 2026 melalui akun X pribadinya.
Menurut Araghchi, apa yang disebut Trump sebagai Hari-H Ekonomi (Economic D-Day) hanyalah pengalihan dari krisis yang dihadapi Amerika.
Menurutnya, kebijakan perang ekonomi terbaru hanya akan membawa Washington kepada kekalahan selanjutnya, sekaligus memperdalam permusuhan rakyat Republik Islam terhadap AS.
Araghchi juga menilai kebijakan Washington adalah bentuk terorisme ekonomi yang mengancam perekonomian global dan kedaulatan berbagai negara.
Pernyataan Araghchi muncul setelah Trump mengumumkan apa yang disebutnya sebagai operasi ekonomi paling menghancurkan terhadap Teheran.
Pada Rabu, 19 Agustus 2026, Trump juga telah menegaskan akan terus memutus berbagai jalur keuangan dan perdagangan yang selama ini mendukung pemerintahan Republik Islam.
Orang nomor satu di AS itu juga memperingatkan negara-negara yang memberikan bantuan ekonomi terhadap Teheran akan menghadapi konsekuensi ekonomi yang sangat berat.
Ilustrasi parade militer Republik Islam Iran
- Istimewa
Di sisi lain, sindiran Araghchi selaras dengan jumlah utang nasional bruto AS yang dilaporkan tembus 40 triliun dolar AS atau sekitar Rp711 kuadriliun.
Angka ini memecahkan rekor untuk pertama kalinya menurut data pemerintah yang dirilis pada Rabu, 19 Agustus 2026.
Mengutip FR 24, kenaikan utang AS terjadi ketika pemerintahan Trump menghadapi kebutuhan pembiayaan yang semakin besar, sementara biaya pembayaran bunga utang juga terus meningkat.
Lonjakan utang terjadi di tengah kekhawatiran investor terhadap inflasi, perang di Timur Tengah, serta besarnya belanja pemerintah.
Pemerintah Federal AS sendiri dilaporkan menjalankan anggaran dalam kondisi defisit.
Oleh sebab itu, Washington harus meminjam dana untuk memenuhi berbagai kewajibannya, termasuk membiayai perang melawan Teheran yang sudah berjalan selama berbulan-bulan.
Republik Islam Klaim California
Baru-baru ini media sosial dibuat heboh dengan aksi balasan Iran terhadap klaim Presiden AS Donald Trump yang menyebut Selat Hormus sebagai wilayah baru Amerika Serikat.