Iran Pamer 'Kartu As' dari Bawah Tanah, Amerika Bisa Dibuat Tak Tenang

Potret ilustrasi kekuatan rudal bawah tanah Iran.
Sumber :
  • Gemini AI

Rezaei kemudian mengkritik kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

img_title Pangkalan Militer Suriah Diserang Israel, Turki dan AS Kompak Bantah Klaim Netanyahu

Ia menilai kebijakan Trump justru menimbulkan tekanan bagi masyarakat Amerika, negara-negara sekutu Washington, serta perekonomian global.

Ia menyoroti peningkatan imbal hasil obligasi jangka panjang Amerika Serikat.

img_title CIA dan Mossad Kewalahan Lacak Keberadaan Pemimpin Tertinggi Iran, 5 Cara Ini Nggak Mempan

Rezaei juga mengaitkannya dengan slogan Trump untuk membuat Amerika kembali kuat, sementara menurutnya beban utang negara tersebut justru terus meningkat.

Rezaei mengklaim Amerika Serikat harus mengalokasikan tambahan dana sebesar 3,7 triliun dolar AS untuk menanggung kewajibannya.

img_title Iran Hadapi Perang Total dengan AS, Satu Jalur Strategis Jadi Taruhan Dunia

Selain persoalan utang, ia menyoroti dampak kebijakan Washington terhadap sektor pelayaran dan perdagangan energi.

Rezaei menyebut sekitar 1.200 kapal tanker minyak tidak dapat digunakan dan biaya bahan bakar kapal mengalami kenaikan tajam.

"Trump telah meningkatkan risiko logistik dalam perdagangan global," ujarnya.

Rezaei juga menyampaikan pandangannya mengenai isu nuklir. 

Menurutnya, kebijakan Amerika Serikat justru berpotensi meningkatkan ketertarikan sejumlah negara terhadap senjata nuklir, bukan memperkuat keamanan nuklir internasional.

Ia mengklaim Iran memiliki komitmen terhadap regulasi nuklir.

Teheran, kata dia, telah menjadi bagian dari Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT) dan menerima kehadiran inspektur internasional.

Dalam pandangannya, Amerika Serikat kecewa dengan hasil operasi militernya terhadap Iran sehingga kemudian meningkatkan tekanan melalui jalur ekonomi.

"Pihak Amerika kecewa dengan serangan militer. Mereka kemudian memutuskan bahwa jika mereka mengepung Iran secara ekonomi, langkah itu akan membantu upaya perang mereka," tuturnya.

Rezaei menilai penunjukan Menteri Keuangan Amerika Serikat untuk memimpin tekanan ekonomi terhadap Iran menunjukkan perubahan strategi Washington setelah kampanye militernya dinilai tidak mencapai hasil yang diharapkan.

"Mereka ingin memecah belah persatuan rakyat melalui tekanan ekonomi dan memobilisasi massa turun ke jalan," ujar Rezaei.

Ia kemudian menyimpulkan bahwa Washington telah menyadari konfrontasi militer langsung terhadap Iran tidak lagi efektif.

Rezaei juga menyinggung peran Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang disebut sebelumnya meminta Trump menerapkan tekanan ekonomi terhadap Iran selama enam bulan.

Namun, Trump disebut menolak usulan tersebut sehingga Netanyahu kemudian mengajukan periode tekanan selama dua bulan.

"Kini mereka telah mengambil keputusan yang keliru," kata Rezaei.

Halaman Selanjutnya
img_title