Trump Ngotot Serang Iran 14 Hari, Elit Militer AS Malah Terpecah, Ini Penyebabnya
- Istimewa
Siap – Ambisi Presiden Amerika Serikat, Donald Trump untuk melakukan serangan 14 hari ke wilayah Republik Islam Iran menuai pro dan kontra di kalangan petinggi militer AS.
Dikutip dari kanal YouTube Kompas, Presiden AS Donald Trump mempertimbangkan serangan udara intensif terhadap Iran selama 10 hingga 14 hari.
Namun, dua elit militer Amerika Serikat justru dikabarkan tidak kompak akibat masalah stok amunisi.
Adapun rencana serangan terbaru ke ini menyusul gempuran rudal terhadap pasukan Amerika Serikat di Yordania pada Selasa, 28 Juli 2026.
Rencana itu untuk melumpuhkan kemampuan rudal Teheran secara signifikan.
Sebelumnya, dalam wawancara bersama Fox News, Trump juga telah mengisyaratkan peningkatan intensitas serangan dengan janji akan menghancurkan Iran secara habis-habisan.
"Kami akan menghancurkan mereka habis-habisan. Kami akan memukul mereka dengan keras," katanya.
Potret ilustrasi serangan rudal Iran ke markas AS.
- Gemini AI
Meski demikian, Trump belum memberikan rincian teknis serangan serta masih membuka kesempatan untuk berunding dengan Teheran.
Di sisi lain, rencana Trump justru memicu perbedaan pandangan di kalangan elit militer Amerika Serikat.
Komandan CENTCOM Laksamana Charles Bradford Cooper II berpandangan serangan terbatas selama ini dinilai tidak efektif untuk mencegah ancaman Iran di Selat Hormuz.
Menurutnya, serangan udara berskala besar perlu dilakukan agar dapat merusak infrastruktur Rudal Teheran secara signifikan.
Sebaliknya, Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine justru mengambil sikap lebih berhati-hati.
Caine dilaporkan telah mengingatkan gedung putih terkait dampak eskalasi lanjutan.
Ia menyoroti menipisnya stok rudal pencegat pertahanan udara Amerika Serikat yang juga dibutuhkan untuk menghadapi ancaman lain seperti dari China, Rusia, dan Korea Utara.
Meski keterbatasan stok tidak menghalangi serangan lanjutan ke Iran, Caine menilai langkah itu akan meningkatkan risiko keamanan Amerika Serikat secara umum.
Ilustrasi serangan rudal Iran ke wilayah militer Amerika di kawasan Teluk
- Istimewa
Sementara itu, Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth dilaporkan memberikan dukungan terhadap rencana Cooper.
Di tengah perbedaan pendapat, Kementerian Pertahanan Amerika Serikat juga memastikan seluruh jajaran militer Amerika Serikat tetap berdada dalam satu komando.
Sebelumnya CENTCOM melancarkan serangan ke puluhan target terkait Korps Garda Revolusi Iran atau IRGC pada Rabu malam 29 Juli 2026.