Dea Anugrah: Kebebasan Berpendapat Perlu Dijaga Melalui Kritik Berbasis Data

Focus Group Discussion (FGD) Malaka Project
Sumber :
  • Istimewa

Siap –Co-Founder Malaka Project, Dea Anugrah, menilai ruang kebebasan berpendapat di Indonesia menghadapi berbagai tantangan yang memerlukan perhatian bersama.

img_title Mengejutkan, Hubungan Arab Saudi dan AS Mendadak Tegang Ditengah Memanasnya Konflik di Selat Hormuz?

Hal itu disampaikannya dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Kebebasan Berpendapat di Indonesia: Hak Konstitusi atau Sekadar Ilusi?” di Cafe The Banjoemas, Cikini, Jakarta, Jumat (24/7) yang tayang di Youtube Perspektive Project.

Dea menyoroti meningkatnya persepsi rasa takut masyarakat dalam menyampaikan pendapat, terutama di ruang digital.

img_title Menohok, Ini Sindiran Pasukan Elite Iran ke Trump Soal Project Freedom, Selat Hormuz Hanya Bisa Dibuka Khamenei?

Menurutnya, aktivitas sederhana seperti membagikan (share) atau mengunggah ulang (repost) konten kini dipersepsikan memiliki risiko hukum yang lebih besar dibandingkan beberapa tahun lalu.

Meski demikian, ia menegaskan kritik terhadap kebijakan publik tetap perlu disampaikan secara bertanggung jawab, yakni berdasarkan data yang telah diverifikasi, argumentasi yang kuat, serta menghindari serangan emosional maupun personal.

img_title Proyek Freedom Trump di Selat Hormuz Berujung Baku Hantam, Iran: Tidak Solusi Militer untuk Krisis Politik?

Dengan pendekatan tersebut, kritik akan lebih substantif dan memiliki landasan yang kuat.

"Kita bisa melakukan apa yang selama ini jadi standar jurnalistik. Jurnalistik itu kalau kita peras sampai ke esensinya, cuma satu: verifikasi. Verifikasi adalah yang pertama dan terpenting dalam kerja jurnalistik. Itu juga yang akan membedakan kerja jurnalistik dari gosip."

Dea mengibaratkan kebebasan berpendapat sebagai "tunas baru" yang masih memerlukan perhatian agar terus tumbuh.

Menurutnya, upaya memperkuat kebebasan tidak dapat dilakukan secara sesaat, melainkan harus dibangun secara berkelanjutan dengan berangkat dari pemahaman yang akurat terhadap realitas.

Ia juga menegaskan bahwa kritik terhadap pemerintah merupakan bagian dari mekanisme demokrasi. Menurutnya, kebijakan publik yang menimbulkan kelemahan atau berdampak merugikan masyarakat perlu dikoreksi melalui kritik yang konstruktif.

Dalam kesempatan itu, Dea Anugrah juga mendorong evaluasi terhadap pola gerakan mahasiswa. Menurutnya, demonstrasi tetap penting sebagai tradisi demokrasi, namun perlu dilengkapi dengan keterlibatan langsung bersama masyarakat agar memiliki legitimasi yang lebih kuat.

"Disinilah kita perlu mengimajinasikan ulang (gerakan mahasiswa). Tidak ada yang salah dengan demonstrasi. Saya sangat mengapresiasi teman-teman yang merawat tradisi demokrasi di kampus di seluruh Indonesia dengan cara berdemonstrasi. Tetapi kalau kita hanya mengulang-ulang koreografi itu saja, ada banyak sekali kesempatan yang kita lewatkan."

Halaman Selanjutnya
img_title