Proyek Freedom Trump di Selat Hormuz Berujung Baku Hantam, Iran: Tidak Solusi Militer untuk Krisis Politik?
- Istimewa
Siap –Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi langsung mengeluarkan pernyataan menohok soal Project Freedom atau Proyek Kebebasan yang dilakukan Amerika Serikat yang nekat ingin menghadapi blokade Selat Hormuz.
Araqchi memperingatkan bahwa inisiatif atau campur tangan AS hanya akan memperdalam ketegangan dan menyeret Washington ke dalam perang regional lainnya.
Ia mengatakan, perkembangan terkini di Selat Hormuz menunjukkan bahwa tidak ada solusi militer untuk krisis politik.
“Peristiwa di Hormuz memperjelas bahwa tidak ada solusi militer untuk krisis politik,” katanya.
“Karena pembicaraan mengalami kemajuan dengan upaya baik Pakistan, AS harus waspada agar tidak terseret kembali oleh pihak-pihak yang berniat jahat. Begitu pula UEA,” sambungnya.
Araqchi lantas menyinggung Project Freedom (proyek kebebasan) AS yang ingin mengawal kapal-kapal asing melintas di Selat Hormuz.
“Proyek Kebebasan adalah Proyek Kebuntuan,” ujarnya.
Sementara itu, Komandan Markas Besar Pusat Khatam al-Anbia Iran, Mayor Jenderal Ali Abdollahi, memperingatkan bahwa setiap kekuatan militer asing, khususnya AS, akan diserang jika mencoba mendekati atau memasuki Selat Hormuz.
“Kami akan menjaga dan mengelola keamanan Selat Hormuz dengan penuh kemampuan, dan menyarankan semua kapal komersial dan kapal tanker minyak untuk menahan diri dari upaya apa pun untuk melewati Selat Hormuz tanpa koordinasi dengan Angkatan Bersenjata (Iran) yang ditempatkan di sana agar tidak membahayakan keamanan mereka,” tegasnya.
Republik Islam Iran kemudian memberlakukan pembatasan lebih lanjut di jalur perairan tersebut, dengan mensyaratkan izin dari otoritas Iran yang berwenang untuk dapat melewatinya.
Langkah terakhir ini dilakukan setelah AS mengumumkan kelanjutan blokade ilegal yang telah mereka coba terapkan terhadap kapal dan pelabuhan Republik Islam.
Selat Hormuz Jadi Arena Baku Hantam AS vs Iran
Rudal Iran dilaporkan telah menghamtam dua kapal penghancur Amerika Serikat yang dianggap nekat ingin menembus Selat Hormuz pada Senin, 4 Mei 2026.
Disitat dari kantor kantor berita Iran, Fars News Agency, dua rudal menghantam kapal fregat AS saat melintasi Selat Hormuz di dekat Pelabuhan Jask.
Serangan ini dilancarkan setelah kapal tersebut mengabaikan peringatan navigasi Teheran, Iran.