Rusia dan China Dikabarkan Siap Perkuat Iran dari Ancaman Serangan Amerika-Israel?
- Kolase Siap.viva/AI
Siap – Ketegangan geopolitik global kembali menjadi sorotan setelah muncul laporan dan spekulasi mengenai kemungkinan peningkatan kerja sama pertahanan antara Iran, Rusia, dan China di tengah meningkatnya tekanan dari Amerika Serikat (AS) serta Israel.
Laporan yang beredar menyebut Rusia dan China berencana menandatangani pakta pertahanan dengan Iran untuk melindungi Republik Islam dari ancaman eksternal.
Namun hingga saat ini belum terdapat konfirmasi resmi dari Moskow, Beijing, maupun Teheran mengenai keberadaan perjanjian pertahanan bersama yang mewajibkan ketiga negara saling membela secara militer seperti model aliansi NATO.
Meski demikian, hubungan strategis antara ketiga negara memang terus berkembang dalam beberapa tahun terakhir.
Kerja sama mereka tidak lagi terbatas pada bidang ekonomi dan diplomasi.
Kolaborasi militer, latihan gabungan, keamanan energi, hingga koordinasi dalam forum internasional semakin sering terlihat.
Perkembangan tersebut membuat banyak analis menilai bahwa poros kerja sama Rusia, China, dan Iran sedang memasuki fase baru yang lebih strategis.
Situasi ini terjadi ketika hubungan Republik Islam dengan Amerika Serikat dan Israel masih berada dalam kondisi penuh ketegangan.
Program nuklir Republik Islam, sanksi ekonomi Barat, keamanan Selat Hormuz, hingga konflik regional menjadi faktor utama yang mendorong Teheran mempererat hubungan dengan kekuatan Eurasia.
Hubungan Republik Islam, Rusia, dan China Semakin Strategis
Dalam beberapa tahun terakhir, Republik Islam berhasil memperluas kerja sama dengan Rusia dan China di berbagai sektor.
Awal 2025, Republik Islam dan Rusia menandatangani perjanjian kemitraan strategis jangka panjang selama 20 tahun yang mencakup kerja sama ekonomi, teknologi, energi, dan pertahanan.
Namun perjanjian tersebut tidak memuat klausul pertahanan bersama yang mengharuskan Rusia terlibat langsung apabila Republik Islam diserang.
Sementara itu, China telah lama menjadi mitra ekonomi terbesar Republik Islam.
Beijing merupakan pembeli utama minyak Republik Islam dan menjadi jalur penting bagi Teheran untuk mempertahankan stabilitas ekonominya di tengah sanksi Barat.
Kerja sama kedua negara juga diperkuat melalui perjanjian strategis jangka panjang yang mencakup investasi besar di sektor energi, infrastruktur, transportasi, dan teknologi.