Iran Jadi Target, Israel Malah Dihantui Ancaman Perpecahan Internal
- Gemini AI
Siap – Perang berkepanjangan dan tekanan politik yang semakin tajam disebut mulai menguji stabilitas internal Israel.
Di tengah ancaman konflik baru dengan Iran, negara tersebut menghadapi persoalan ekonomi, sosial, militer hingga perpecahan politik yang berpotensi semakin melebar.
Dilansir dari kanal YouTube tvOne, Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat atau CIA disebut telah mengeluarkan penilaian mengenai kondisi internal Israel.
Dalam penilaian tersebut, Israel dinilai menghadapi kemungkinan terjadinya konflik saudara hingga risiko keruntuhan negara apabila berbagai persoalan yang ada tidak segera diredam.
Penilaian rahasia itu disebut berjudul "Fracture From Within" atau "retak dari dalam".
Dokumen tersebut menggambarkan adanya keretakan di berbagai sektor yang dapat semakin memperlemah kondisi Israel.
CIA menyoroti bagaimana persoalan politik, ekonomi dan sosial berkembang secara bersamaan menjelang pemilihan umum Israel yang dijadwalkan berlangsung pada 27 Oktober 2026.
Sejumlah persoalan menjadi perhatian, mulai dari tekanan ekonomi, besarnya anggaran yang harus dikeluarkan untuk kebutuhan militer, hingga meningkatnya ketidakpuasan masyarakat terhadap kebijakan pengecualian wajib militer bagi kelompok Yahudi ultra-Ortodoks atau Haredim.
Situasi tersebut disebut semakin rumit akibat meningkatnya kekerasan yang dilakukan pasukan pendudukan Israel di wilayah Tepi Barat Palestina.
Dalam penilaian itu, langkah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk mempertahankan kekuasaan juga disebut berpotensi menambah ketegangan politik dan konstitusional di dalam negeri.
Perang yang berlangsung selama bertahun-tahun di Gaza, Lebanon dan Iran dinilai turut memperbesar perpecahan yang sebelumnya sudah berkembang di masyarakat Israel.
Kondisi tersebut juga berkaitan dengan kembalinya para tentara dari medan pertempuran setelah menjalani operasi berkepanjangan.
Sebagian dari mereka disebut mengalami tekanan dan trauma psikologis serius akibat pengalaman selama berada di medan perang.
Persoalan wajib militer menjadi salah satu sumber ketegangan paling menonjol.
Penolakan terhadap pengecualian bagi laki-laki ultra-Ortodoks disebut semakin meningkat dan berpotensi memperlebar kesenjangan di tengah masyarakat.
Selain persoalan domestik, penilaian tersebut juga menyoroti meningkatnya tekanan dari lingkungan internasional terhadap Israel.
Dukungan terhadap Tel Aviv disebut mengalami pengikisan, termasuk dari sekutu utamanya, Amerika Serikat.