Iran Pamer 'Kartu As' dari Bawah Tanah, Amerika Bisa Dibuat Tak Tenang

Potret ilustrasi kekuatan rudal bawah tanah Iran.
Sumber :
  • Gemini AI

Siap – Kemampuan industri pertahanan Iran kembali menjadi sorotan setelah petinggi militer negara tersebut meninjau fasilitas produksi rudal bawah tanah di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat.

img_title CIA dan Mossad Kewalahan Lacak Keberadaan Pemimpin Tertinggi Iran, 5 Cara Ini Nggak Mempan

Dikutip dari kanal YouTube Kompas, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran, Mayor Jenderal Ali Abdollahi, mengunjungi fasilitas produksi rudal bawah tanah tersebut pada Sabtu, 22 Agustus 2026.

Kunjungan itu dilakukan bertepatan dengan peringatan Hari Industri Pertahanan Nasional Iran.

img_title Iran Hadapi Perang Total dengan AS, Satu Jalur Strategis Jadi Taruhan Dunia

Dalam rekaman yang ditayangkan televisi pemerintah Iran, Abdollahi terlihat memeriksa area fasilitas produksi bersama Pelaksana Tugas (Plt) Menteri Pertahanan Iran, Brigadir Jenderal Seyyed Majid Ibn al-Reza.

Pemerintah Iran tidak mengungkap lokasi fasilitas bawah tanah yang dikunjungi kedua pejabat tersebut. 

img_title Jenderal Eks Pasukan Elit Iran Siapkan Ledakan Bak Gempa Bumi untuk AS

Keberadaan fasilitas itu menjadi bagian dari upaya Teheran menunjukkan perkembangan kemampuan industri pertahanannya.

Saat berada di dalam fasilitas, Abdollahi memberikan apresiasi terhadap kinerja Kementerian Pertahanan Iran.

Ia menilai para pekerja menunjukkan dedikasi serta semangat untuk meningkatkan kemampuan produksi persenjataan.

"Rekan kami tercinta di kementerian pertahanan telah menunjukkan pekerjaan yang sangat penting di sini. Ketika seseorang memasuki tempat ini yang terlihat hanyalah kerja keras, dan upaya dan di samping itu semangat untuk terus maju," katanya.

Abdollahi juga mengklaim bahwa kemampuan Iran dalam memproduksi persenjataan terus berkembang.

Menurutnya, produk pertahanan yang dibuat saat ini memiliki kemampuan lebih tinggi serta kualitas yang lebih baik dibandingkan produk sebelumnya.

"Dengan dedikasi para staf dan pejabat senior kementerian, mereka telah mampu memproduksi peralatan yang jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya, yang memiliki kemampuan lebih unggul dan berkualitas tinggi," jelas Abdollahi.

"Selain itu mereka juga mampu membawanya ke tahap produksi dalam jumlah yang jauh lebih besar dibandingkan sebelumnya," sambung dia.

Pernyataan tersebut disampaikan ketika hubungan Iran dan Amerika Serikat masih berada dalam situasi penuh ketegangan.

Perselisihan kedua negara juga berkaitan dengan isu keamanan, militer, ekonomi, serta jalur perdagangan energi strategis di kawasan.

Sebelumnya, Amerika Serikat dan Iran menandatangani nota kesepahaman pada Juni setelah proses mediasi yang melibatkan Pakistan dan Qatar. 

Kesepakatan itu menghentikan operasi militer sekaligus memberikan waktu 60 hari bagi kedua pihak untuk melakukan perundingan menuju penyelesaian akhir.

Salah satu persoalan yang turut dibahas dalam proses tersebut adalah kebebasan navigasi di Selat Hormuz.

Jalur laut tersebut memiliki posisi strategis dalam perdagangan energi dunia.

Namun, tenggat waktu perundingan telah berakhir tanpa menghasilkan kesepakatan final.

Upaya diplomasi antara Washington dan Teheran pun masih menghadapi kebuntuan.

Di tengah kondisi tersebut, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, mengeluarkan peringatan kepada negara-negara tetangga agar tidak ikut dalam tekanan ekonomi yang dilakukan Amerika Serikat terhadap Iran.

Dikutip dari Tasnim News, Rezaei menyatakan Teheran akan menganggap negara yang ikut serta dalam upaya tersebut sebagai musuh.

Ia bahkan memperingatkan adanya kemungkinan negara-negara tersebut menjadi sasaran apabila tetap melanjutkan keterlibatannya.

Rezaei mengatakan kebijakan pertahanan dan pendekatan internasional Iran telah berubah secara signifikan setelah apa yang disebutnya sebagai agresi perang Amerika Serikat dan Israel.

Ia menegaskan bahwa Teheran tidak akan menjalankan diplomasi dengan pendekatan yang sama seperti sebelumnya.

"Iran saat ini tidak akan sama dengan Iran sebelum perang," tegasnya.

Menurut Rezaei, perubahan juga terjadi dalam cara Amerika Serikat memandang Iran.

Pada saat yang sama, ia menilai pandangan komunitas internasional terhadap Republik Islam juga telah mengalami pergeseran.

Karena itu, Rezaei menilai Iran perlu menyesuaikan strategi pertahanan dan diplomatiknya.

Ia mengaitkan perubahan tersebut dengan dugaan pelanggaran komitmen serta kegagalan Washington memenuhi kesepakatan yang sebelumnya telah dicapai melalui perundingan.

Rezaei juga menilai citra Amerika Serikat sebagai negara yang mengedepankan perdamaian telah berubah.

Ia menuduh Washington telah menunjukkan "wajah aslinya" melalui serangkaian tindakan militer terhadap Iran.

Ia turut menilai keputusan Pemimpin Revolusi Islam Mojtaba Khamenei menunjuk para komandan berpengalaman merupakan langkah yang tepat.

Menurutnya, pengalaman para veteran perang diperlukan untuk menghadapi situasi yang sedang berkembang.

"Tentu akan ada perubahan dalam manajemen dan pelaksanaan perang serta dalam perilaku diplomatik Iran," kata Rezaei.

Perubahan tersebut, lanjut dia, tidak terlepas dari apa yang disebutnya sebagai pengkhianatan Amerika Serikat terhadap proses perundingan serta kegagalan negara tersebut menjalankan kesepakatan yang telah ditandatangani.

Rezaei kemudian mengkritik kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Ia menilai kebijakan Trump justru menimbulkan tekanan bagi masyarakat Amerika, negara-negara sekutu Washington, serta perekonomian global.

Ia menyoroti peningkatan imbal hasil obligasi jangka panjang Amerika Serikat.

Rezaei juga mengaitkannya dengan slogan Trump untuk membuat Amerika kembali kuat, sementara menurutnya beban utang negara tersebut justru terus meningkat.

Rezaei mengklaim Amerika Serikat harus mengalokasikan tambahan dana sebesar 3,7 triliun dolar AS untuk menanggung kewajibannya.

Selain persoalan utang, ia menyoroti dampak kebijakan Washington terhadap sektor pelayaran dan perdagangan energi.

Rezaei menyebut sekitar 1.200 kapal tanker minyak tidak dapat digunakan dan biaya bahan bakar kapal mengalami kenaikan tajam.

"Trump telah meningkatkan risiko logistik dalam perdagangan global," ujarnya.

Rezaei juga menyampaikan pandangannya mengenai isu nuklir. 

Menurutnya, kebijakan Amerika Serikat justru berpotensi meningkatkan ketertarikan sejumlah negara terhadap senjata nuklir, bukan memperkuat keamanan nuklir internasional.

Ia mengklaim Iran memiliki komitmen terhadap regulasi nuklir.

Teheran, kata dia, telah menjadi bagian dari Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT) dan menerima kehadiran inspektur internasional.

Dalam pandangannya, Amerika Serikat kecewa dengan hasil operasi militernya terhadap Iran sehingga kemudian meningkatkan tekanan melalui jalur ekonomi.

"Pihak Amerika kecewa dengan serangan militer. Mereka kemudian memutuskan bahwa jika mereka mengepung Iran secara ekonomi, langkah itu akan membantu upaya perang mereka," tuturnya.

Rezaei menilai penunjukan Menteri Keuangan Amerika Serikat untuk memimpin tekanan ekonomi terhadap Iran menunjukkan perubahan strategi Washington setelah kampanye militernya dinilai tidak mencapai hasil yang diharapkan.

"Mereka ingin memecah belah persatuan rakyat melalui tekanan ekonomi dan memobilisasi massa turun ke jalan," ujar Rezaei.

Ia kemudian menyimpulkan bahwa Washington telah menyadari konfrontasi militer langsung terhadap Iran tidak lagi efektif.

Rezaei juga menyinggung peran Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang disebut sebelumnya meminta Trump menerapkan tekanan ekonomi terhadap Iran selama enam bulan.

Namun, Trump disebut menolak usulan tersebut sehingga Netanyahu kemudian mengajukan periode tekanan selama dua bulan.

"Kini mereka telah mengambil keputusan yang keliru," kata Rezaei.

Menurutnya, kampanye tekanan ekonomi yang dilakukan Trump lebih banyak mengandung unsur propaganda.

Ia mempertanyakan langkah lain yang masih dapat dilakukan Washington setelah berbagai bentuk tekanan sebelumnya diterapkan.

Mengenai kemungkinan blokade maritim, Rezaei mengatakan tindakan tersebut bukan sesuatu yang baru bagi Iran.

Ia bahkan menyebut Teheran telah mengekspor sekitar 70 juta barel minyak dalam kurun satu hingga dua bulan terakhir.

Dalam kesempatan itu, Rezaei kembali menyampaikan peringatan kepada negara-negara tetangga agar tidak bergabung dalam tekanan ekonomi yang diarahkan Amerika Serikat kepada Iran.

"Kami mengimbau seluruh negara tetangga untuk tidak ikut serta dalam perang ekonomi melawan Iran. Kami akan menganggap musuh negara mana pun yang terlibat di dalamnya," tegasnya.

Rezaei mengatakan Teheran akan terlebih dahulu melakukan pendekatan diplomatik kepada negara-negara yang dianggap terlibat. 

Iran, kata dia, akan berusaha membujuk mereka agar tidak ikut serta dalam kampanye tersebut.

Namun, ia memberikan peringatan apabila negara-negara tersebut tetap menjalankan kebijakan yang dianggap merugikan Iran.

"Jika mereka memulai tindakan semacam itu, kami tidak akan membiarkan satu tetes minyak pun melintasi Teluk Persia," ancam Rezaei.

"Minyak tidak akan bisa keluar, baik melalui Selat Hormuz maupun Teluk Persia," sambungnya.

Ia juga mengklaim Iran saat ini telah menutup Selat Hormuz tanpa mengganggu lalu lintas minyak yang berada di kawasan Teluk Persia.

Rezaei menambahkan bahwa Iran sejauh ini masih menahan diri untuk tidak menyerang kepentingan ekonomi Amerika Serikat, meskipun sebelumnya telah melakukan serangan terhadap pangkalan militer AS.

"Saudara-saudara kami siap untuk melakukan operasi, namun kami tetap menempuh langkah yang bijak dan logis," ujarnya.