Intip Persiapan Iran untuk Hadapi Perang Besar Amerika Serikat
- Istimewa
Siap – Iran dilaporkan tengah melakukan berbagai persiapan untuk meladeni konflik yang tak berkesudahan dengan Amerika Serikat dan sekutunya.
Dikutip dari kanal YouTube tv One, pemimpin garis keras Iran disebut memanfaatkan masa tenang setelah penandatanganan nota kesepahaman atau MoU dengan Amerika Serikat pada Juni 2026, lalu.
Nah kabarnya momen masa tenang itu dimanfaatkan Teheran untuk memperkuat persiapan menghadapi kemungkinan konflik yang lebih besar dengan AS.
Seperti dilaporkan The Wall Street Journal, dalam 2 bulan terakhir Republik Islam tersebut telah meningkatkan produksi rudal dan drone.
Bukan cuma itu saja, mereka juga memperluas operasi kontra intelijen, serta memperkuat pengaruh Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC terhadap militer reguler.
Langkah ini dilakukan karena para pemimpin di Teheran menilai, kesepakatan dengan Washington hanya menjadi jeda sebelum kemungkinan serangan lanjutan.
Markas bawah tanah Iran siap hadapi AS dan Israel
- Istimewa
Di saat diplomasi tetap berjalan, mereka disebut tengah menjalankan strategi militer secara paralel dengan memperkuat hubungan dengan kelompok sekutu di Irak, Yaman, dan Lebanon.
IRGC juga dilaporkan meningkatkan kesiapan di sekitar Laut Merah dan Selat Hormuz, termasuk melalui penempatan rudal, senjata laut, dan peluncur drone.
Kondisi ini turut meningkatkan kekhawatiran negara-negara teluk terhadap keamanan, jalur pelayaran dan infrastruktur energi.
Di dalam negeri, Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei disebut melakukan restrukturisasi aparat keamanan dengan menempatkan sejumlah tokoh senior IRGC pada posisi strategis.
Ahmad Fahidi ditunjuk sebagai komandan IRGC. Sementara Hossein Taeb kembali memimpin Basij untuk memperkuat jaringan keamanan dan kontra intelijen.
Teheran juga disebut menyiapkan sejumlah opsi eskalasi mulai dari serangan pendahuluan dan sabotase hingga operasi terbatas.
Meski mengalami kerusakan akibat serangan sebelumnya, Republik Islam dinilai masih memiliki kemampuan mengancam jalur pelayaran dan infrastruktur energi di kawasan.
Situasi tersebut membuat negara-negara teluk meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan konflik Teheran dengan Washington yang berlangsung lebih lama.
Syarat Keras Teheran
Iran tidak hanya menahan pembukaan kembali Selat Hormuz, namun juga menyodorkan enam syarat yang harus dipenuhi Washington sebelum akses pelayaran dibuka.