Iran Gempur Target Strategis AS, Pusat Data Ini Disebut Ikut Dihantam

Serangan balasan Iran atas Amerika Serikat
Sumber :
  • Istimewa

Siap – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat setelah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengumumkan serangkaian serangan yang diklaim menyasar sejumlah fasilitas strategis di Bahrain dan Kuwait.

img_title Iran Bertekad untuk Terus Melawan hingga AS-Israel Kalah Total

Salah satu target yang disebut terkena serangan adalah fasilitas milik perusahaan teknologi asal Amerika Serikat, Amazon.

IRGC mengklaim berhasil menghantam fasilitas komersial Amazon di Bahrain menggunakan rudal jelajah.

img_title Di Tengah Perang Iran-AS, Kanada Dapat Sindiran Tak Terduga dari Teheran

Menurut laporan kantor berita Iran, Tasnim News, pasukan kedirgantaraan IRGC menyatakan telah menghancurkan infrastruktur pusat data Amazon sebagai bagian dari operasi militer terbaru.

IRGC menyebut serangan tersebut merupakan aksi balasan atas serangan Amerika Serikat terhadap infrastruktur sipil di Darkkhovin, Iran.

img_title Perang AS-Iran Belum Reda, Dugaan Pembahasan Nuklir Terungkap

Selain itu, IRGC juga mengklaim telah menghancurkan sejumlah instalasi militer utama Amerika Serikat di Kuwait.

"Keamanan di kawasan telah terganggu akibat tindakan pasukan teroris Amerika Serikat. Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran berupaya memulihkan keamanan dan stabilitas kawasan melalui operasi melawan AS," demikian bunyi pernyataan IRGC.

Menurut IRGC, sejumlah fasilitas yang menjadi sasaran meliputi radar peringatan dini, sistem radar pertahanan rudal, radar FPS-117, sistem pertahanan udara Patriot, hingga sistem komunikasi satelit pertahanan udara di Pangkalan Ahmed Al Jaber.

Selain itu, serangan juga diklaim menyasar gedung administrasi dan antena pencari arah (direction-finding antennas) di Camp Arifjan.

Area parkir helikopter di Camp Al Adiri serta fasilitas tempat tinggal personel militer di Pangkalan Ahmed Al Jaber juga disebut menjadi target operasi tersebut.

Dikutip dari Al Jazeera, IRGC menyatakan operasi militer itu bertujuan melumpuhkan cakupan radar di kawasan sebagai persiapan menghadapi serangan rudal dan drone pada tahap berikutnya.

IRGC juga mengklaim sebagian operasi dilakukan menggunakan drone bunuh diri atau kamikaze drone.

Hingga kini, belum ada konfirmasi resmi dari pemerintah Amerika Serikat terkait klaim yang disampaikan IRGC.

Informasi mengenai tingkat kerusakan maupun korban akibat serangan tersebut juga belum dapat dipastikan.

Situasi di kawasan pun masih terus dipantau karena dikhawatirkan dapat memicu eskalasi konflik yang lebih luas di Timur Tengah.