Serangan Iran ke Pangkalan AS Buka Babak Baru Konflik Timur Tengah
- Istimewa
Siap – Serangan rudal Iran terhadap pangkalan militer Amerika Serikat di Yordania memunculkan fakta baru yang semakin memperkeruh situasi di Timur Tengah.
Serangan tersebut dilaporkan menghantam fasilitas penting yang digunakan sebagai tempat tinggal personel militer AS dan menyebabkan korban jiwa.
Menurut laporan The Wall Street Journal yang mengutip dua pejabat Amerika Serikat, serangan balasan Iran pada Sabtu, 18 Juli 2026, menyasar Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Yordania.
Pangkalan strategis tersebut dilaporkan menjadi sasaran tiga gelombang serangan rudal balistik dalam waktu kurang dari 24 jam.
Dikutip dari Al Jazeera, laporan awal menyebut dua personel militer Amerika Serikat tewas akibat serangan tersebut.
Namun, perkembangan terbaru mengungkapkan bahwa satu jenazah lagi ditemukan di lokasi kejadian dan masih menjalani proses identifikasi oleh pihak berwenang.
Berdasarkan kronologi yang terungkap, serangan pertama menghantam gedung pusat kebugaran (gym) di kompleks pangkalan beberapa saat setelah sirene peringatan berbunyi.
Akibat serangan itu, sejumlah personel militer mengalami luka ketika berusaha menyelamatkan diri menuju lokasi perlindungan.
Gelombang serangan kedua kemudian menghantam hanggar pesawat yang saat itu dalam keadaan kosong.
Sementara rudal ketiga menghantam unit hunian prefabrikasi atau containerized housing units yang digunakan sebagai tempat tinggal prajurit Amerika Serikat.
Pentagon telah mengumumkan identitas dua personel yang meninggal dunia, yakni First Lieutenant Tyler J. Feehan asal Hawaii dan Prajurit Isabella Gonzales asal Texas.
Sementara itu, identitas korban ketiga hingga kini masih belum diumumkan karena proses identifikasi masih berlangsung.
Selain korban tewas, satu personel militer Amerika Serikat juga masih dinyatakan hilang di sekitar lokasi serangan.
Peristiwa tersebut memicu reaksi keras dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Melalui unggahan di platform Truth Social pada Senin, 20 Juli 2026, Trump menegaskan telah menginstruksikan seluruh jajaran pimpinan militer, termasuk Menteri Pertahanan Pete Hegseth, untuk mengambil tindakan paling tegas apabila kembali ada tentara Amerika Serikat yang menjadi korban jiwa.
"Setiap kali Iran membunuh seorang tentara Amerika, mereka akan membayar mahal atas pembunuhan itu berkali-kali lipat," tulis Trump, seperti dikutip dari Anadolu Agency.