Trump Dilema Perang Melawan Iran

Guru Besar Hukum Internasional UI, Hikmahanto Juwana
Sumber :
  • istimewa

Siap – Serangan AS dan Israel terhadap Iran memasuki minggu ketiga. Meski Presiden Trump menyatakan kemampuan militer Iran semakin tidak ada, AS segera menyelesaikan perang, bahkan AS telah memenangkan perang, namun Iran terus bertahan dan terus melakukan serangan balasan ke Israel, Pangkalan Militer AS di Negara Teluk dan Kapal Induk AS. 

img_title Ngeri, Ini Ancaman Iran ke AS: Anda Tak Akan Bisa Keluar dari 'Jurang Neraka' yang Anda Ciptakan Sendiri!

Iran pun menutup Selat Hormuz bahkan melakukan serangan terhadap kapal tanker yang tidak memperoleh persetujuannya utk melewati Selat Hormuz.

Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia (UI), Hikmahanto Juwana mengatakan, saat ini Trump menghadapi dilema.

img_title Serem, Iran Mulai Gunakan Rudal yang Bisa Menentukan Mangsanya Sendiri

Di satu sisi Trump tidak bisa begitu saja menghentikan perang karena mengakhiri perang secara sepihak berarti dua hal. 

Pertama, AS dianggap kalah perang yang berarti Trump bisa menghadapi impeachment dan kemarahan rakyat di AS semakin besar atas kebijakan Trump menyerang Iran. 

img_title Jantung Energi Iran Dibayangi Ancaman, Ledakan Misterius Muncul di Pulau Kharg

Kedua, mengakhiri perang secara sepihak akan membahayakan Israel karena Iran akan terus menyerang Israel dan Israel harus menghadapi sendiri serangan balasan dari Iran.

"Agar tidak terjadi pengakhiran secara sepihak oleh AS, tidak heran bila Trump mengklaim Iran ingin membuka komunikasi untuk melakukan negosiasi. Harapnnya Iran akan menyetujuinya," katanya, Senin (16/3/2026).

Hanya saja klaim ini mendapat bantahan dari Iran yang menyatakan menutup kemungkinan untuk negosiasi gencatan senjata.

Bila Trump terus melancarkan serangan ke Iran, menjadi pertanyaan kapankah Iran akan menyatakan diri kalah perang mengingat belum ada tanda-tanda pelemahan dari Iran dalam melakukan serangan balasan.

Serangan AS ke Iran yang berlarut-larut akan menguras anggaran AS. Bahkan publik AS semakin banyak yang akan mempertanyakan keputusan Trump melakukan serangan ke Iran.

Publik AS akan bertambah marah pada Trump bila jumlah prajurit yang tewas dalam perang ini semakin banyak.

"Serangan AS juga akan membuat harga minyak terus melonjak dan ini membuat Trump mendapat tekanan dari negara-negara Teluk dan negara-negara pada umumnya yang harus turut menanggung harga minyak yang tinggi," ujarnya.

Hikmahato berpendapat, satu-satunya opsi bagi Trump dalam situasi ini adalah untuk memenangkan perang melawan Iran dalam waktu yang singkat.

Halaman Selanjutnya
img_title