Iran Peringatkan Prancis agar Tidak Memperluas Konflik di Tengah Perang dengan AS dan Israel
- Istimewa
Siap – Di tengah pekatnya asap perang yang membubung di Timur Tengah, jalur diplomasi tetap berpendar.
Iran secara terbuka memperingatkan Prancis agar tidak mengambil langkah yang dapat memperburuk ketegangan kawasan, di tengah agresi militer Amerika Serikat (AS) dan Israel yang sedang berlangsung terhadap Republik Islam.
Peringatan ini disampaikan langsung oleh Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dalam percakapan telepon dengan mitranya dari Prancis, Jean-Noel Barrot, pada Sabtu malam, 14 Maret 2026.
Dialog dua diplomat senior ini menjadi sorotan, mengingat posisi Prancis yang berada di antara tekanan sekutu tradisionalnya, AS dan Israel, serta keinginannya untuk menjaga stabilitas kawasan dan melindungi kepentingan nasionalnya.
Percakapan tersebut membahas perang yang dipaksakan oleh AS dan rezim Zionis terhadap Iran serta situasi terkini di kawasan tersebut.
Akar Ketidakamanan: "Hanya AS dan Rezim Zionis"
Trump dan Netanyahu soal perang Iran
- Istimewa
Dalam percakapan telepon tersebut, Araghchi tidak ragu menunjukkan siapa yang menurutnya menjadi biang keladi konflik.
Menteri Luar Negeri Iran menyatakan bahwa satu-satunya faktor dan akar penyebab ketidakamanan yang terjadi di kawasan dan Selat Hormuz adalah Amerika Serikat dan rezim Zionis.
Pernyataan ini mencerminkan narasi utama Teheran sejak awal konflik: bahwa mereka adalah korban agresi dan bertindak dalam ranah pembelaan diri.
Serangan AS-Israel pada 28 Februari 2026, yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Sayyid Ali Khamenei dan sejumlah komandan senior, menjadi titik balik yang memicu gelombang perlawanan bersenjata dari Iran.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menekankan perlunya pendekatan yang bertanggung jawab dari semua negara terhadap situasi saat ini.
Ia meminta komunitas internasional mengecam keras tindakan kriminal para agresor yang menyerang Iran.
Menurutnya, sikap tegas dunia internasional penting untuk menjaga stabilitas kawasan.
Araghchi juga mengingatkan agar semua pihak menahan diri dari tindakan yang dapat memperburuk situasi.
Ia menegaskan bahwa langkah-langkah yang memicu eskalasi hanya akan memperluas konflik dan meningkatkan ketegangan regional.
Tindakan Defensif, Bukan Serangan Regional
Salah satu poin krusial yang disampaikan Araqchi adalah upaya untuk meluruskan potensi kesalahpahaman di kalangan negara-negara kawasan, termasuk mitra-mitra Prancis di Teluk.