Jleb! Begini Jawaban Cerdas Anies Ketika Disikat Rocky Gerung Depan Umum

Rocky Gerung vs Anies Baswedan
Sumber :
  • Tangkapan layar YouTube Rocky Gerung Official

Siap – Pengamat politik, Rocky Gerung melontarkan pertanyaan yang cukup menohok terhadap capres nomor urut satu, Anies Baswedan. Lantas bagaimana tanggapannya? 

Kutip Hadis, Pria Ini Sebut Anies Wali Allah: Para Pembenci Harus Hati-hati

Dikutip dari channel YouTube Rocky Gerung Official, awalnya mantan dosen UI dipancing oleh moderator untuk melontarkan pertanyaan yang tajam terhadap Anies.  

"Emang kalau saya bertanya sekeras apapun nggak bisa dijawab oleh Anies? Saya tahu cara berpikirnya, dan saya tahu isi hatinya," kata Rocky disitat siap.viva.co.id pada Selasa, 21 November 2023.

Siap Jihad Bela Islam, Jawara Garut Tantangan Duel Berdarah dengan Hercules Satu Lawan Satu

Namun akhirnya Rocky bersedia meladeni tantangan tersebut. 

"Saya mulai dari situ ya, demokrasi adalah soal cara berpikir. Ada definisi yang menyatakan, demokrasi adalah dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat, itu omong kosong," tuturnya.

Dukung Hak Angket Guncangan Politik Pilpres 2024 Menggema di Media Sosial X

Menurut dia, demokrasi adalah pemerintahan akal melalui pemerintahan moral. 

"Demokrasi datang dari kebiasaan. Saya pakai bahasa Inggris karena dia (Anies) paham bahasa Inggris," tuturnya sambil tertawa.

"Tadi saya suka caption di ujung sana, tantangan dari demokrasi adalah Undang-Undang ITE. Anda bayangkan, kenapa saya mengulas itu karena saya akan kena Undang-Undang itu," sambungnya,

"Jadi pertanyaan saya, apakah Anies akan membatalkan Undang-Undang itu demi saya, sahabatnya. Atau demi demokrasi?" tanya Rocky.

Sebab, kata dia, jika Undang Undang ini terus berlaku, maka semua bisa sama terjerat seperti dirinya. Rocky lantas berpendapat, jika itu dibiarkan maka rakyat akan penuh kecemasan. 

"Jadi demokrasi itu adalah jaminan primer tentang kebebasan untuk berpikir, itu aja." 

Kebebasan berpikir, kata Rocky, menghasilkan kebebasan berpendapat. Nggak mungkin kalau ada ucapan karena tidak berpendapat. 

"Nah sekarang kita dibikin dungu, karena nggak mampu mengucapkan pendapat. Karena kamu berhadapan dengan Undang-Undang. Oke, kalau berpendapat akan sopan dan santun. Saya hanya sopan pada orang tua. Saya nggak mungkin sopan dan santun pada pejabat," tegasnya.

Lebih lanjut pria yang pernah mengajar sebagai dosen filsafat UI itu menerangkan, bahwa pikiran hanya disebut pikiran, kalau ada pikiran yang menentang. 

"Jadi saya ingin Anies menjawab itu. Apa alasan utama kita harus menghasilkan pikiran? Kita harus mengucapkan pendapat, kita harus bertengkar dengan pendapat." 

"Nah ini kenapa bertengkar dengan pendapat kita kena pidana? Ini tidak masuk akal. Ajaib negeri ini, mengucapkan pendapat malah pidana. Tapi itu yang ingin saya tanya pada Anies, apa dasarnya? supaya bukan sekedar kita yang tahu," timpalnya lagi. 

Lebih lanjut Rocky menilai, akhir-akhir ini demokrasi enggak ada, yang ada hanya dinasti

"Tapi dinasti yang benar itu darahnya biru, kalau yang sekarang darahnya kotor. Saya mengucapkan itu dengan cara seksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya," tutur dia.

Menanggapi sederet cecaran Rocky, Anies pun akhirnya buka suara. 

"Sebenarnya lebih dalam dari ITE. Kalau pertanyaan hanya UU ITE, ya kalau itu akan direvisi, dia akan dikoreksi. Tapi secara umum kan dia (Rocky) mengatakannya atas nama rakyat," katanya.

Anies menjelaskan tentang pentingnya demokrasi di negeri ini, karena itu berasal dari mandat yang diterima, lalu negara melakukan langkah. 

Menurutnya, pada saat negara melakukan langkah itu, maka negara memberikan sebuah pandangannya. 

Kemudian, bila ruang untuk kebebasan berpikir itu dibuka, maka langkah ini akan memancing pendapat. 

"Pendapat kategorinya ada dua, pro dan yang kontra. Kita sebut (kontra) sebagai kritik. Apa yang terjadi ketika itu dibuka? Maka saya misalnya, sebagai penyelenggara negara ketika mendapatkan kritik saya harus menyiapkan argumen tambahan atas apa yang saya harus kerjakan," ujarnya. 

Lalu, mereview semua alasan, kenapa ini dikerjakan dan ketika kritik itu makin tajam, maka yang dikerjakan harus memiliki dasar yang lebih kuat lagi. 

"Itulah yang sebenarnya membuat sebuah rencana, sebuah kebijakan, makin solid. Kalau ruang (kritik) itu tidak ada, yang terjadi dia (kebijakan) akan melenggang tanpa kritik, maka dia akan muncul sebagai masalah yang baru," jelasnya.

Itu semua, kata Anies, akan dirasakan rakyat sesudah kebijakan dieksekusi.

"Pada saat di eksekusi semua masalah-masalah yang harusnya muncul sebagai kritik di awal, dia muncul nanti," ucapnya. 

"Munculnya kemudian. Karena itulah, sebenarnya ketika ada perdebatan pro dan kontra itu sesungguhnya publik edukasi tentang sebuah kebijakan. Itu sebabnya ruangnya harus dibuka," sambungnya.

"Tapi kalau ruang itu tertutup, kebijakan melenggang begitu saja tanpa ada proses penajaman, penguatan, dan saya perlu garis bawahi, ketika bicara kritik sebuah kritik itu substansinya mau caranya seperti apa itu urusan pengkritik," timpalnya lagi. 

Menurut Anies, mau dengan santun atau tidak, itu urusan pengkritik. 

"Tapi bagi yang dikritik substansinya harus dijawab. Harus dijelaskan, dan harus diberikan ruang untuk itu. Siapa yang paling dirugikan ketika ruang kebebasan itu hilang? Yang paling dirugikan adalah seluruh rakyat dan justru penyelenggara negara, bukan pengkritik yang paling dirugikan," katanya.

"Rakyat yang seharusnya tercerdaskan, dan negara yang harus membuat langkah yang lebih baik. Jadi, dasar dari itu adalah membuat kualitas demokrasi lebih baik. Justru dengan memberikan ruang kebebasan berekspresi yang lebih luas lagi, kira-kira begitu," tuturnya.