Kemenkominfo Waspada Serangan Siber Data Pemilu 2024: Sangat Masif!

Kemenkominfo soal kejahatan siber jelang Pemilu 2024
Sumber :
  • Istimewa

Siap – Ditjen Aptika Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) tengah fokus menghadapi potensi adanya berbagai persoalan digital jelang perhelatan akbar Pemilu 2024.

img_title Trump Berpotensi Ambil Langkah Ekstrem terhadap Iran, Ada Apa di Balik Pemilu AS?

Terkait hal itu, keamanan siber menjadi menjadi pembahasan penting dari webinar literasi digital yang digelar Ditjen Aptika Kemenkominfo pada Kamis, 25 Januari 2024.

Kegiatan yang diisi oleh tiga narasumber penting, mulai dari Wakil Ketua DPR-RI, Lodewijk F Paulus, Prof Dodo Muktiyo selaku Praktisi Literasi Digital dan Akademisi Yuri Rahmanto itu dilaksanakan untuk mengantisipasi penyimpangan penggunaan teknologi dan pencurian data pribadi saat Pemilu.

img_title Di Balik Sikap Gedung Putih, Laporan soal Langkah Militer Trump terhadap Iran Mencuat

Dalam paparannya, Lodewijk F Paulus menyebut bahwa di era digital saat ini media sosial kian salah digunakan. 

Musabab, kini hal tersebut menjadi tempat sarana penyebaran informasi hoax, sara dan lainnya yang menyesatkan masyarakat.

img_title Trump Disorot dari Dua Arah, Obama Angkat Isu Iran dan Pertarungan Politik AS

Dia berpendapat bahwa informasi hoax yang kerap didapati masyarakat adalah buah dari mudahnya akses informasi yang didapat di media sosial. 

"Perkembangan teknologi ini begitu pesat. Namun tentunya ada positif dan negatifnya. Maka di tengah mudahnya mendapatkan informasi, maka harus semakin bijak pula untuk mencernanya," kata Lodewijk dalam keterangan tertulis yang diterima siap.viva.co.id pada Jumat, 26 Januari 2024.

Terlebih pada saat Pemilu, lanjutnya, maka masyarakat pengguna smartphone harus lebih teliti dalam menerima informasi yang kebenarannya belum bisa dipertanggungjawabkan.

Sebab, menurut dia, jika informasi hoax dicerna dengan mentah-mentah, maka bukan tidak mungkin bisa terjadi perpecahan.

“Jangan mudah terprovokasi dengan judul berita yang diterima. Bersikap kritis terhadap apapun yang didapat, gunakan logika saat mendapat suatu berita yang belum diketahui kebenarannya,” jelas Lodewijk.

Sementara itu, Praktisi Literasi Digital, Prof Dodo Muktiyo mengatakan, proses pencernaan informasi hoax oleh pengguna smartphone bisa terjadi ketika kondisi fisik sedang kelelahan.

"Kondisi ini membuat penerima informasi tidak stabil. Sehingga ketika dalam keadaan lelah, maka berhenti lah," kata dia.

Namun jika pada saat itu tetap memaksakan diri karena ingin mengetahui informasi, maka harus bisa dipastikan siap dan konsentrasi dan tidak hanya percaya pada satu sumber informasi.

Halaman Selanjutnya
img_title