IMPRESI Ancam Somasi Singapura

Potret ilustrasi
Sumber :
  • Istimewa

Siap –Institut Media dan Ruang Publik Indonesia (IMPRESI) mengecam keras dugaan adanya permainan kepentingan finansial asing di balik polemik Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang berpotensi merugikan pasar modal Indonesia.

img_title Perang Iran dan Popularitas yang Merosot, Trump Hadapi Ujian Berat

IMPRESI bahkan mempertimbangkan langkah hukum berupa somasi terhadap pihak-pihak yang terbukti melakukan tindakan merugikan kepentingan ekonomi nasional.

Direktur Komunikasi IMPRESI, Yusuf Mars, memperingatkan Singapura agar tidak membiarkan pusat keuangannya menjadi tempat berlangsungnya praktik yang merugikan perekonomian Indonesia.

img_title Soal Dua Tahun Prabowo–Gibran, BEM PTMA Zona III: Apresiasi Tanpa Hilangkan Kritik

“Singapura jangan coba-coba mengobok-obok ekonomi Indonesia! Negara kecil bukan berarti boleh seenaknya mempermainkan kepentingan ekonomi negara tetangga. Indonesia bukan halaman belakang Singapura,” tegas Yusuf Mars dalam keterangan yang diterima, Sabtu (24/10).

Menurut Yusuf, polemik MSCI harus dibuka secara transparan.

img_title Dituding Alami Kesulitan Akibat Sanksi Ekonomi, Iran Sebut Klaim Kebangkrutan sebagai Ilusi

Terlebih, telah muncul tudingan mengenai kemungkinan keterlibatan kepentingan finansial yang berkaitan dengan Singapura, meskipun tudingan tersebut telah dibantah oleh pihak yang disebut.

IMPRESI menilai tudingan dan bantahan tersebut harus diuji secara objektif agar tidak menimbulkan ketidakpastian di pasar modal Indonesia.

“Kalau ada pihak yang sengaja menekan bursa Indonesia, menjatuhkan harga saham, lalu memborongnya dengan harga murah, itu bukan investasi. Itu perampokan ekonomi berkedok mekanisme pasar global,” ujar Yusuf.

Yusuf menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh terus-menerus menjadi objek permainan modal internasional.

Apalagi, hubungan ekonomi Indonesia dan Singapura selama ini sangat erat dan seharusnya dilandasi prinsip saling menghormati.

“Jangan sampai keuntungan ekonomi dinikmati Singapura, sementara risiko dan kerugiannya ditanggung rakyat Indonesia. Hubungan bertetangga harus saling menguntungkan, bukan menjadi kesempatan untuk menguasai ekonomi tetangga,” katanya.

IMPRESI mendesak Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI), serta pemerintah untuk menyelidiki setiap indikasi transaksi tidak wajar, konflik kepentingan, maupun dugaan manipulasi pasar yang dapat merugikan investor nasional.

IMPRESI juga meminta otoritas keuangan Singapura memberikan perhatian serius terhadap tudingan yang berkembang dan mendukung transparansi apabila ditemukan indikasi pelanggaran oleh pelaku keuangan yang berada dalam yurisdiksinya.

“Indonesia tidak boleh tunduk pada tekanan kepentingan modal global. Kita terbuka terhadap investasi, tetapi bukan berarti membiarkan kedaulatan ekonomi dipertaruhkan,” lanjut Yusuf.

IMPRESI menyatakan siap mengkaji somasi terhadap pihak-pihak yang dapat dimintai pertanggungjawaban secara hukum apabila ditemukan bukti adanya tindakan yang merugikan kepentingan nasional.

“Kami ingatkan, jangan bermain api dengan ekonomi Indonesia. Kalau terbukti ada rekayasa untuk menjatuhkan pasar dan mengeruk keuntungan dari kerugian bangsa ini, kami akan mendorong proses hukum. Singapura harus menghormati Indonesia sebagai negara berdaulat!” pungkas Yusuf.

Sebagai informasi, Institut Media dan Ruang Publik Indonesia (IMPRESI) adalah lembaga pemantau dan analis media yang independen, kredibel, dan berbasis data. IMPRESI bergerak di bidang pemantauan, analisis, riset, advokasi, dan pendidikan.