Dampak Perang Iran Merembet ke Politik AS, Trump Hadapi Tekanan Berlapis

Potret ilustrasi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Sumber :
  • Istimewa

Siap – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menghadapi tekanan politik menjelang Pemilihan Paruh Waktu atau pemilu sela yang dijadwalkan berlangsung pada Selasa, 3 November 2026.

img_title Intelijen Sebut Iran Incar Pejabat AS hingga Eropa, Ini Isi Laporannya

Perang berkepanjangan dengan Iran dan persoalan ekonomi domestik menjadi sejumlah faktor yang membayangi posisi politiknya.

Partai Republik kini menghadapi tantangan untuk mempertahankan pengaruhnya di Kongres AS.

img_title Ketegangan dengan AS Meningkat, Iran Keluarkan Perintah Khusus untuk Militernya

Kondisi tersebut terjadi ketika tingkat kepuasan masyarakat terhadap kepemimpinan Trump dilaporkan mengalami penurunan tajam.

Dikutip dari kanal YouTube Kompas, hasil jajak pendapat Reuters dan Ipsos yang dirilis pada Senin, 19 Oktober 2026, menunjukkan tingkat kepuasan terhadap kinerja Trump hanya mencapai 31 persen.

img_title Trump Buka Peluang Serang Iran Lagi, Isyarat Waktunya Bikin Dunia Tegang

Analis senat dari Cook Political Report, Jessica Taylor, menilai pemilu sela selama ini kerap menjadi kesempatan bagi pemilih untuk menyampaikan ketidakpuasan terhadap presiden yang sedang menjabat melalui pilihan politik mereka.

Gambaran tersebut sejalan dengan hasil jajak pendapat nasional yang menempatkan Partai Demokrat dengan dukungan 47 persen, sedangkan Partai Republik memperoleh 35 persen.

Apabila selisih dukungan itu bertahan hingga hari pemungutan suara pada 3 November 2026, Partai Republik berpotensi menghadapi tantangan besar dalam mempertahankan kendali atas Kongres AS.

Salah satu faktor yang turut membayangi pemerintahan Trump adalah konflik berskala besar dengan Iran yang pecah sejak akhir Februari 2026.

Perang yang berlangsung selama berbulan-bulan itu disebut berdampak terhadap kondisi ekonomi, terutama melalui kenaikan harga energi.

Harga minyak mentah dunia dilaporkan melampaui 100 dolar AS per barel atau sekitar Rp1,7 juta. 

Kenaikan tersebut turut memengaruhi harga bahan bakar di Amerika Serikat, dengan harga bensin mencapai 4,3 dolar AS per galon atau sekitar Rp77.000.

Meningkatnya biaya energi dan kebutuhan sehari-hari memicu ketidakpuasan masyarakat terhadap pengelolaan ekonomi pemerintah. 

Dalam jajak pendapat yang dikutip, sebanyak 68 persen warga AS menyatakan tidak puas terhadap kebijakan ekonomi pemerintah.

Dari jumlah tersebut, 37 persen di antaranya merupakan pemilih yang mendukung Partai Republik.

Kebijakan Trump yang melonggarkan sanksi energi terhadap Rusia untuk memungkinkan impor solar dengan tujuan menekan harga bensin juga menuai kritik dari publik.

Di tengah tekanan tersebut, kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu sela berpotensi mengubah dinamika politik pemerintahan Trump.

Halaman Selanjutnya
img_title