Lagi, Baku Tembak AS vs Iran Kembali Pecah, Trump Panaskan Meja Perundingan, Araghchi: Kami Bukan .....
- Istimewa
Siap –Saling serang antara Amerika Serikat dan Iran kembali terjadi, AS dikabarkan melancarkan serangan ke menara telekomunikasi di pulau Sirik Provinsi Hormozgan.
Disitat dari kantor berita resmi Irna, IRGC mengklaim bahwa pesawat tempur mereka berhasil menghancurkan semua target yang telah ditentukan di pangkalan udara Amerika.
Angkatan Udara IRGC juga memperingatkan bahwa pengulangan agresi semacam itu akan memicu respons yang berbeda sifatnya.
"Tanggung jawab atas setiap eskalasi akan berada di tangan rezim AS yang agresif dan pembunuh anak-anak."
Militer AS disebut telah mengambil sejumlah tindakan anti-Iran dan itu melanggar gencatan senjata yang dimediasi Pakistan.
Hal itu termasuk serangan tanpa provokasi dan pelanggaran wilayah udara, serta memberlakukan apa yang disebut blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan di wilayah Republik Islam.
Sebagai informasi, Pulau Sirik terletak di Provinsi Hormozgan, Iran selatan, dekat Selat Hormuz yang strategis di Teluk Persia.
Trump Panaskan Meja Perundingan
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengirimkan versi revisi dari proposal dami yang diusulkan kepada Iran dengan syarat yang lebih berat.
Langkah itu dilakukan ketika upaya diplomatik untuk mencapai kesepakatan yang dapat mengakhiri perang yang masih berlangsung.
Menurut laporan The New York Times yang dikutip Anadolu pada Sabtu (30/5), Trump mengubah sejumlah bagian dalam rancangan kesepakatan dan mengirimkannya ke Teheran untuk di pertimbangkan.
Sejumlah pejabat yang mengetahui proses negosiasi itu mengatakan revisi telah disampaikan ke Iran meski rincian perubahan dalam dokumen tidak diungkapkan.
Respon Iran
Usai Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut mengubah proposal dan memberikan syarat damai menjadi lebih berat, Pemerintah langsung mengirimkan pesan tegas yang mengejutkan publik.
Menteri Luar Negeri Iran Sayyid Abbas Araghchi menegaskan bahwa Republik Islam tidak akan menerima perintah dari pihak mana pun, termasuk dari Presiden Amerika Serikat Donald (AS) Trump.
Pernyataan tersebut menjadi sorotan karena disampaikan ketika hubungan Washington dan Teheran masih berada dalam fase yang sensitif, terutama terkait pembahasan program nuklir Iran, pencabutan sanksi ekonomi, serta berbagai isu keamanan kawasan Timur Tengah.