Putin Peringatkan Trump: Rusia akan Bertindak AS Serang Iran Lagi
- Istimewa
Siap – Dunia kembali dibuat tegang. Sebuah panggilan telepon antara dua pemimpin negara adidaya baru saja terjadi.
Isinya bukan basa-basi. Presiden Rusia Vladimir Putin mengirim peringatan keras. Targetnya adalah Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Peringatan itu jelas. Jangan coba-coba melancarkan aksi militer lagi di Republik Islam.
Jika nekat, konsekuensinya akan sangat serius.
Bahkan Kremlin menyebutnya "sangat merusak."
Tidak hanya bagi Teheran dan tetangganya, tetapi bagi seluruh komunitas internasional sebagaimana dikutip dari laporan Ahram Online, Selasa, 28 April 2026.
Apa yang memicu peringatan ini?
Semua bermula dari konflik yang pecah pada 28 Februari lalu.
AS bersama Israel melancarkan serangan gabungan ke Republik Islam.
Serangan itu memicu perang besar yang belum juga usai.
Kini, saat dunia sedang menikmati gencatan senjata yang rapuh, muncul kekhawatiran baru. AS dikabarkan akan kembali melancarkan aksi militer.
Putin pun angkat bicara.
Dan di balik layar, ada sosok lain yang turut bermain.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi.
Putin Tegas: Konsekuensi Sangat Merusak, Rusia Siap Bertindak
Peringatan itu disampaikan langsung oleh Yuri Ushakov, asisten Kremlin.
Ia mengungkapkan isi pembicaraan Trump dan Putin yang berlangsung pada Rabu, 29 April 2026.
Apa kata Putin?
Menurut Ushakov, Putin menekankan bahwa tindakan militer AS lagi akan membawa petaka.
Konsekuensi yang tak terhindarkan dan sangat merusak akan terjadi.
Bukan hanya Iran yang terkena.
Tetangganya dan seluruh masyarakat global akan merasakan dampaknya.
Ini bukan sekadar omongan diplomatik.
Rusia menunjukkan keseriusannya.
Sejak awal konflik, Putin sudah menyatakan kesiapan Moskow untuk turun tangan.
Dalam pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Mesir pada awal April, Putin menegaskan komitmen Rusia.
"Izinkan saya menegaskan kembali bahwa kami siap melakukan segala upaya untuk membantu menstabilkan situasi dan, seperti yang dikatakan dalam kasus-kasus seperti ini, mengembalikannya ke kondisi normal," ujar Putin saat itu.
Kesiapan itu kini semakin nyata.
Setelah panggilan telepon dengan Trump, Putin bahkan menawarkan perannya sebagai pihak ketiga.
Ia bersedia menangani uranium Iran yang diperkaya.