Kapolri Instruksikan Brimob Siaga Total Antisipasi Imbas Perang AS dan Iran
- Istimewa
Siap – Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengeluarkan instruksi pada lebih dari 7.000 personil Brimob untuk siaga menghadapi gejolak global imbas perang yang terjadi antara Israel dan Amerika Serikat melawan Iran.
Hal itu disampaikan Listyo saat memimpim apel terkait kegiatan rapat kerja teknis di Markas Korps Brimob, Kelapa Dua, Depok pada Selasa, 21 April 2026.
Listyo mengatakan, Polri khususnya Brimob, harus selalu siap dan terus mengikuti perkembangan situasi global, geopolitik, geoekonomi, yang tentunya akan berdampak kepada eskalasi, di luar maupun dalam negeri.
"Tadi saya sudah sampaikan pada saat pengarahan di dalam bahwa kita harus terus mengikuti dan mewaspadai dampak ataupun implikasi dari konflik yang terjadi antara Israel melawan Iran, di mana Israel dibantu oleh Amerika dan kemudian berkembang ke negara-negara Teluk yang menjadi pangkalan Amerika, dan juga serangan Israel ke Lebanon," ujarnya.
"Ini tentunya menimbulkan situasi dan eskalasi global yang meningkat dan akan menjadi ancaman apabila tidak segera didamaikan, akan terus meluas," sambung dia.
Perang tersebut, tidak hanya menimbulkan banyak korban jiwa, tapi merusak fasilitas penting, dan kini merambah pada gangguan di sektor energi.
"Kita tahu beberapa waktu yang lalu terjadi serangan terhadap kilang-kilang minyak yang terjadi di Saudi Aramco, kemudian dibalas dan saat ini di Selat Hormuz kapal-kapal yang lewat pun juga terjadi penyerangan, sehingga ini berdampak kepada situasi energi khususnya yang hampir 20 persen melewati Selat Hormuz dan itu berdampak kepada situasi energi di dunia," jelasnya.
Listyo mengingatkan, beberapa negara termasuk di kawasan Asia telah menetapkan status darurat energi nasional. Termasuk Indonesia telah mengumumkan untuk menggunakan energi seefisien mungkin.
"Bahkan beberapa negara juga sudah mulai mengatur terkait dengan pemberlakuan WFH, termasuk Indonesia pun saat ini juga sudah melakukan WFH atau WFO dalam satu minggu satu kali."
"Artinya kita semua harus terus bersiap menghadapi situasi yang ada dan ini tentunya akan berdampak terhadap meningkatnya harga minyak dunia dan diperkirakan apabila Selat Hormuz terus mengalami gangguan, maka harga minyak bisa terus naik," sambungnya.