Perundingan Mandek, Ada Perang AS - Iran Jilid 2 ?
- Istimewa
Siap –Perundingan gencatan senjata untuk perdamaian perang antara Amerika Serikat dan Iran di Islamabad Pakistan berakhir dengan jalan buntu alias "Mandek".
Setelah lebih dari 20 jam perundingan, Wakil Presiden AS JD Vance mengakui bahwa ada perbedaan pandangan yang sangat besar antara AS dan Iran terbukti tidak dapat diatasi untuk saat ini.
Sementara Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan, Teheran hampir mencapai kesepakatan dengan Washington selama pembicaraan akhir di Islamabad.
Namun tiba tiba AS memberikan tekanan maksimal, perubahan target dan mengancam blokade.
Lantas apa yang akan terjadi selanjutnya, gencatan senjata atau pecah Perang AS - Iran Jilid 2?
Dilansir dari laporan AFP, Senin (13/4), saat ini semua pihak di Timur Tengah khawatir dengan adanya potensi terjadinya perang AS vs Iran Jilid 2, bahkan semuanya bersiap terhadap situasi terburuk usai Donald Trump kembali memanaskan potensi itu dengan ancaman blokade Selat Hormuz.
"Situasi bisa berubah kapan saja," kata Aishah seorang konsultan ekonomi yang berpusat di Doha Qatar.
"Ini lebih tentang menjalani setiap hari apa adanya," sambungnya.
Namun adanya juga yang menyebut hal itu tidak mengejutkan ungkap Laura Kaufman seorang guru sekolah di Tel Aviv.
"Saya tidak terlalu berharap banyak pada mereka sejak awal, karena kedua pihak menginginkan hal yang benar benar berlawanan," katanya.
"Sepertinya tidak ada yang mau bernegosiasi," lanjutnya.
Sebelumnya, dalam sebuah jajak pendapat baru-baru ini menemukan bahwa hanya 10% publik Israel yang percaya bahwa perang melawan Iran telah menjadi "kesuksesan yang signifikan".
Sebanyak 32% menganggapnya sebagai kegagalan pemerintah.
Sementara itu di Iransecercah harapan bahwa perundingan akan mengakhiri permusuhan antara kedua musuh bebuyutan itu dengan cepat pupus. Situasi ini bahkan membuat banyak warga stres.
"Saya benar-benar ingin mereka berdamai," kata Mahsa, seorang karyawan berusia 30 tahun di sebuah perusahaan ekspor di ibu kota Iran.
"Sudah hampir 45 hari saya melihat semua orang stres. Ini situasi yang buruk."tambahnya.
Perasaan akan hal yang tak terhindarkan mulai meresap bagi banyak orang.