Gawat, Perundingan AS - Iran di Pakistan Mandek, Rusia Turun Tangan?
- Istimewa
Siap –Kabar mengejutkan, baru baru beredar kabar bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin akan turun tangan dan siap membantu menengahi konflik Amerika Serikat dan Iran usai perundingan kedua negara di Pakistan menemui jalan buntu alias "Mandek".
Hal tersebut disampaikan langsung oleh Putin saat berbicara melalui sambungan telepon dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian.
"Putin menegaskan soal kesiapannya untuk memfasilitasi pencarian penyelesaian politik dan diplomatik atas konflik tersebut dan untuk menengahi upaya mencapai perdamaian yang adil dan abadi di Timur Tengah," demikian pernyataan kantor kepresidenan Rusia Kremlin seperti dilansir Moscow Times.
Sementara itu, presiden Pezeshkian dalam kesempatan itu juga menyampaikan terima kasih kepada Rusia atas bantuan kemanusiaan yang telah diberikan.
Menurut pernyataan Kremlin, Presiden Iran menyampaikan rasa terima kasih atas posisi prinsip Rusia termasuk di platform internasional, yang bertujuan untuk meredakan situasi.
"Untuk tujuan ini, Rusia akan terus melakukan kontak aktif dengan semua mitra di kawasan ini," lanjut pernyataan itu.
Potret Ilustrasi
- Istimewa
Dugaan Penyebab Perundingan
Mandek Konflik Amerika Serikat kembali memanas setelah perundingan di Pakistan menemui jalan buntu alias "Mandek".
Terkait hal tersebut, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menilai bahwa sikap Amerika Serikat yang tidak konsisten alias "Plin Plan" menjadi hambatan utama dalam proses perundingan.
Disitat dari Tasnim, dalam keterangannya Araghchi menyebut bahwa Washington kerap menunjukan perubahan sikap dalam waktu singkat.
Sontak hal ini dinilai menyulitkan tercapainya kesepakatan karena komunikasi yang terjalin tidak berjalan secara stabil dan dapat diprediksi.
Menurutnya, kondisi tersebut bukan hanya sekedar perbedaan pandangan biasa, namun juga mengindikasikan adanya faktor lain yang menyebabkan negosiasi tidak berjalan lancar.
Bahkan muncul dugaan bahwa gagal nya perundingan tersebut terjadi karena adanya unsur kesengajaan dari Amerika Serikat.
Meski demikian, Iran menegaskan bahwa mereka tetap membuka ruang komunikasi.
Namun, komunikasi yang terjadi sejauh ini lebih bersifat pertukaran pesan secara tidak langsung, bukan negosiasi formal yang dapat menghasilkan keputusan konkret.
Tak ayal, hal tersebut mencerminkan rendahnya tingkat kepercayaan antara kedua negara.