Iran Ancam Targetkan Pangkalan AS Jika Diserang
- Siap.viva/AFP/Atta Kenare
Siap – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat.
Namun, di saat yang sama, jalur diplomasi justru tetap dibuka.
Situasi ini menandai fase rumit hubungan kedua negara: saling mengancam, tetapi tetap berunding.
Iran mengancam akan menyerang pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah jika lebih dulu diserang.
Pernyataan keras itu disampaikan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dalam wawancara dengan televisi Al Jazeera Qatar, Sabtu (7/2/2026).
Araghchi menegaskan, serangan balasan tersebut tidak ditujukan kepada negara tetangga yang menjadi tuan rumah pangkalan AS.
Target Iran hanya pangkalan militer AS yang berada di wilayah tersebut.
Pernyataan ini langsung menarik perhatian karena muncul saat pembicaraan nuklir kedua negara kembali dibuka.
Di satu sisi, ancaman militer meningkat.
Di sisi lain, diplomasi justru bergerak maju.
Kombinasi ini memperlihatkan situasi geopolitik yang rapuh di kawasan Timur Tengah.
Ancaman Balasan di Tengah Diplomasi
Iran kerahkan rudal baru jelang dialog AS
- Siap.viva/ANTARA/Anadolu
Peringatan dari Teheran muncul sehari setelah Iran dan AS sepakat melanjutkan pembicaraan nuklir tidak langsung di Oman.
Kedua pihak menyebut diskusi sebelumnya berjalan positif.
Ini menjadi sinyal bahwa ruang dialog masih terbuka, meski tensi politik tetap tinggi.
Meski belum ada tanggal resmi, Presiden AS Donald Trump mengatakan negosiasi bisa dimulai awal pekan depan.
Pernyataan tersebut memberi harapan baru bagi upaya meredakan ketegangan yang selama ini membayangi hubungan kedua negara.
Namun, sebelum rencana perundingan itu berjalan, Trump sempat mengancam akan menyerang Iran.
Ia juga menuntut penghentian pengayaan uranium.
Selain itu, AS meminta Iran menghentikan pengembangan rudal balistik dan dukungan kelompok bersenjata di kawasan.
Tuntutan tersebut langsung ditanggapi Teheran dengan sikap tegas.
Iran menegaskan tidak berniat membuat senjata nuklir.
Araghchi juga menolak memperluas pembicaraan di luar isu nuklir.
Ia menegaskan Iran hanya membahas program nuklir, bukan isu lain.
Pernyataan ini memperlihatkan garis batas yang jelas.
Iran bersedia berunding, tetapi hanya dalam kerangka yang sempit.
Isu non-nuklir dianggap sebagai wilayah yang tidak bisa dinegosiasikan.
Di sinilah ketegangan muncul.