Harga Minyak Terjun Bebas Usai Sinyal Dialog AS-Iran, Pasar Energi Masih Waspada

Harga minyak turun jelang dialog AS-Iran
Sumber :
  • Siap.viva/istockphoto/zhengzaishuru

Siap – Harga minyak dunia melemah pada Kamis (5/2/2026) pagi. Sentimen pasar berubah setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran sepakat melanjutkan perundingan di Oman pada Jumat, 6 Februari 2026.

img_title Trump Hadapi Pilihan Besar soal Iran, Serangan Militer dan Risiko Perang Jadi Sorotan

Kesepakatan itu meredakan kekhawatiran konflik militer yang berpotensi mengganggu pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah.

Melansir Reuters, kontrak berjangka minyak Brent turun US$ 1 atau sekitar 1,4 persen ke level US$ 68,47 per barel.

Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah 91 sen atau 1,4 persen ke posisi US$ 64,23 per barel.

Pergerakan ini menunjukkan betapa sensitifnya pasar energi terhadap dinamika geopolitik.

Bahkan sinyal dialog saja sudah cukup menekan harga.

Namun, ketidakpastian masih membayangi karena agenda pembahasan belum sepenuhnya jelas.

Sehari sebelumnya, harga minyak sempat melonjak sekitar 3 persen.

Lonjakan terjadi setelah muncul laporan media yang menyebutkan potensi gagalnya perundingan AS-Iran.

Ketika pejabat kedua negara memastikan dialog tetap berjalan, premi risiko di pasar langsung menurun.

Dengan kata lain, harga minyak saat ini bergerak cepat mengikuti arah diplomasi.

Pasar merespons setiap sinyal, baik eskalasi maupun de-eskalasi.

Reaksi Pasar dan Ketidakpastian Negosiasi

 

Negosiasi Iran-AS tetap berjalan

Photo :
  • Siap.viva/ANTARA/Anadolu

Analis pasar IG, Tony Sycamore, menilai fluktuasi harga minyak mencerminkan ketidakpastian seputar perundingan tersebut.

Menurutnya, lonjakan harga sebelumnya dipicu kekhawatiran pembicaraan batal.

Sementara itu, tekanan terbaru muncul seiring meredanya risiko setelah ada konfirmasi bahwa dialog akan dilanjutkan.

Iran menyatakan terbuka untuk membahas program nuklirnya, termasuk isu pengayaan uranium.

Negara-negara Barat disebut ingin pembahasan yang lebih luas.

Agenda yang diinginkan AS mencakup program rudal balistik Iran, dukungan terhadap kelompok bersenjata di kawasan, hingga isu domestik di negara tersebut.

Perbedaan agenda ini berpotensi mempersulit proses negosiasi.

Karena itu, pasar belum sepenuhnya optimistis.

Harga minyak bisa kembali naik jika pembicaraan mengalami hambatan atau gagal mencapai kesepakatan.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya juga mengeluarkan peringatan keras terhadap Iran.

Ancaman tindakan militer masih menjadi faktor risiko.

Selama ketegangan belum benar-benar mereda, volatilitas harga minyak diperkirakan tetap tinggi.

Peran Iran dan Jalur Vital Selat Hormuz

 

Potret pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Khamenei

Photo :
  • Istimewa

Iran merupakan produsen minyak terbesar keempat di OPEC.

Setiap eskalasi konflik yang melibatkan negara tersebut berpotensi memicu gangguan pasokan global.

Hal ini membuat pasar sangat sensitif terhadap perkembangan hubungan AS-Iran.

Selain produksi Iran, perhatian pasar juga tertuju pada jalur distribusi energi global.

Sekitar seperlima konsumsi minyak dunia melewati Selat Hormuz.

Jalur ini menjadi rute vital bagi ekspor minyak dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Irak, dan Iran.

Gangguan di Selat Hormuz bisa berdampak luas.

Bukan hanya harga minyak, tetapi juga stabilitas ekonomi global.

Karena itu, setiap sinyal ketegangan di kawasan Teluk selalu direspons cepat oleh pelaku pasar energi.

Untuk saat ini, rencana perundingan di Oman memberi napas sementara. Risiko konflik langsung dinilai menurun. Namun, pelaku pasar tetap berhati-hati karena situasi dapat berubah cepat.

Faktor Lain yang Menopang Harga Minyak

Di tengah meredanya premi risiko geopolitik, pasar minyak sempat mendapat dukungan dari data persediaan AS.

Energy Information Administration melaporkan stok minyak mentah dan distilat AS menurun pada pekan yang berakhir 30 Januari.

Penurunan ini sempat menopang harga. Meski begitu, persediaan bensin justru meningkat.

Peningkatan terjadi seiring badai musim dingin yang melanda sebagian wilayah AS.

Kondisi cuaca memengaruhi aktivitas kilang dan distribusi bahan bakar.

Kombinasi faktor geopolitik dan data persediaan membuat arah harga minyak sulit diprediksi.

Dalam jangka pendek, pasar akan terus memantau hasil perundingan AS-Iran.

Setiap pernyataan pejabat atau perkembangan baru bisa langsung memicu pergerakan harga.

Bagi konsumen dan pelaku industri, kondisi ini berarti harga energi masih berpotensi berfluktuasi.

Dialog diplomatik memang memberi harapan stabilitas.

Namun, selama ketegangan belum benar-benar mereda, pasar minyak global akan tetap bergerak dalam bayang-bayang ketidakpastian.

 
 
Halaman Selanjutnya
img_title
img_title Surat Rahasia Wapres AS JD Vance Tiba, Iran Tegaskan Syarat Damai Harga Mati!